Danau Ranau Menurut Peneliti Ekspedisi Limnologi Indo-Danau


Dilihat dari sejarah pembentukannya, Danau Ranau tergolong danau tekto-vulkanik. Evolusi Danau Ranau bermula dari terbentuknya cekungan akibat sesar pisah-tarik (pull-apart fault). Dalam cekungan berukuran 12 km x 16,5 km ini, gunung api dan panas bumi bermunculan. Letusan dahsyat Ranau terjadi sekitar 55.000 tahun yang lalu dan menyemburkan 150 km3 rempah vulkanik. Endapan aliran awan panas dan material jatuhan menyelimuti area seluas 140 km2. Proses ini diikuti perkembangan kaldera-kaldera kecil yang kemudian terisi air.Peningkatan aktivitas vulkanik ini kemudian memperluas kaldera hingga ke bentuk seperti sekarang (Setyahadi et al. 2012).

Ekspedisi limnologi Indo-danau yang dilaksnakan besama oleh peneliti Finlandia dan Indonesia di tahun 1992 (Lehmusluoto, et al. 1997), memberikan gambaran tentang kondisi limnologi Danau Ranau saat itu. Hasilnya antara lain menunjukkan karakteristik perairan danau ini yang mempunyai stratifikasi yang lemah. Di lapisan bawah (lapisan hipolimnion) yang terdapat mulai dari kedalaman sekitar 70 m dan seterusnya ke bawah, sudah tidak lagi mengandung oksigen (anoxic). Pada lapisan-dalam ini juga terdeteksi adanya gas belerang H2S yang bersifat toksik. Pada musim hujan, ketika suhu permukaan turun maka dapat terjadi pengadukan air secara vertikal (overturn) yang berpotensi menyebabkan naiknnya air dari bawah yang tanpa oksigen dan mengandung gas belerang yang toksik ke permukaan, hingga dapat mengakibatkan terjadinya kematian massal ikan di danau.


Setyahadi et al. (2012) mencatat fenomena matinya ikan di Danau Ranau dalam jumlah besar telah beberapa kali terjadi dalam 50 tahun terakhir. Kejadian itu diantaranya di tahun1962, 1993, 1995, 1998, dan 2011. Sementara itu penelitian oleh Kementarian Energi dan Sumberdaya Mineral (2011) mengindikasikan kematian ikan pada tanggal 4 April 2011, tidakterjadi di seluruh daerah danau, tetapi hanya di sekitar keluarnya mata air panas yakni di mata air panas Kota Batu, Ujung, dan mata air panas Way Wahid. Pada saat kejadian, air danau di lokasi matinya ikan biasanya berwarna putih susu dan berbau gas belerang. Dari penelitian itu, terungkap pula bahwa pada sekitar waktu kejadian ada gempa mikro di garis sesar yang melintang sepanjang danau.


Berdasarkan kajian Samuel et al. (2010) di Danau Ranau, beberapa parameter kualitas air seperti suhu, kecerahan, pH, oksigen terlarut, karbon dioksida, nitrat, dan fosfat (Tabel 1) dapat disimpulkan bahwa perairan danau ini masih cukup baik untuk kehidupan biota akuatik. Demikian pula kajian mengenai plankton (terekam fitoplankton 19 spesies, dan zooplankton 5 spesies) dan bentos, secara keseluruhan mengindikasikan perairan ini tergolong perairan mesoeutrophic yakni perairan dengan kesuburan menengah hingga tinggi.


Penelitian Samuel et al. (2010) selanjutnya mengungkapkan bahwa kegiatan perikanan di danau ini lebih ditekankan pada perikanan tangkap. Perikanan budidaya dengan karamba jaring apung (KJA) tidak direkomendasikan oleh Pemda setempat. Tercatat ada 17 spesies ikan di perairan ini, empat diantaranya sangat umum ditangkap yakni arongan (Hampala macrolepidota), mujaer (Oreochromis mossambicus), palau (Osteochilus hasselti) dan kepiat(Barbonymus schwanenfeldii), sedangkan yang agak jarang adalah ikan semah (Tor sp.). Ikanmujaer adalah ikan introduksi yang dimasukkan ke perairan ini tahun 1957.


Sumber : DANAU-DANAU ALAMI NUSANTARA, Anugerah Nontji : 2016. Hal. 77-79

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deskripsi Puyang di Sumatera Selatan

Cerita Rakyat Sumsel : Putri Berambut Putih

Cerita Rakyat Sumsel : Bujang Remalun