Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Sejarah Komering Singh di Muaradua (OKUS)

Gambar
Komering berasal dari kata India yang berarti Pinang. Disebutkan dalam buku Adat Perkawinan Komering Ulu Selatan, bahwa pada abad ke IX (Sembilan) Masehi, di sekitar daerah Ranau sedang ramai mengadakan perdagangan pinang dengan Negara India. Untuk mengumpulkan pinang di daerah itu, oleh pihak pembeli ditunjuklah seorang saudagar yang bertindak sebagai perwakilan perdagangan. Kebiasaan masyarakat setempat, menamai seseorang sesuai dengan tugas pekerjaannya. Kepada wakil pedagang dari india ini, masyarakat menamainya sesuai dengan bahasa asal yang bersangkutan, yaitu “Komering Singh”, berarti “Juragan Pinang”. Makam Komering Singh tersebut bertempat di dekat pertemuan sungai Selabung dan Waisaka di hulu kota Muaradua (daerah pasar lama). Dari tempat makam tersebutlah sungai mengalir hingga ke Muara (Minanga) diberi nama dengan sebutan Sungai komering mulai saat itu, penghuni semua penghuni sekitar sungai tersebut dinamai orang Komering dan daerahnya dinamai daerah Komering ...

Istilah Masyarakat Uluan Sumatera Selatan

Gambar
            Dalam istilah sehari-hari, untuk masyarakat di luar kota Palembang digunakan istilah masyarakat “ Pedalaman ” Sumatera Selatan. Pada pembahasan ini kita gunakan istilah masyarakat huluan (uluan) Sumatera Selatan . Penulis berpendapat bahwa istilah terakhir inilah yang paling tepat digunakan untuk menamakan kelompok masyarakat di luar kota Palembang. Dikatakan istilah yang lebih tepat karena di samping penamaan itu sudah dikenal semenjak adanya Kesultanan Palembang juga penamaan itu berasal dari penggambaran pola pemukiman masyarakat semenjak awal mereka tumbuh dan berkembang.             Sesuai dengan keadaan lingkup geografisnya mereka sejak semula berdiam di pinggir-pinggir sungai bahkan menamakan kelompok (etnis mereka) sesuai dengan nama-nama sungai itu seperti: Ogan, Lematang, Komering dan lain-lain. Jadi orientasinya adalah sungai-sungai itu yang semu...

Sastra Lisan Suku Semende : Asal Mule Bedirinye Semende

Gambar
Base asal-usul berdirinye tanah Semende ni, ade puyang ughang nam, berasal dari Pagaruyung, Padang. Name jeme ughang nam ini, ye pertame Tuan Raje, kedue Alim Raje, ketige Legan Bumi, keempat Raje Ngekup, kelime Nakan Adin, keenam Same Wali. Di jalanan sampai di daerah Besemah Libagh betemu sughang, nyelah Guru Sakti Secare Prabu Sahmat. Kate Tuan Guru Sakti tu, "Ke mane kamu ghang nam ni?" "Kami ughang nam ini kah ncakaghkah tebambangan anaq cucung kele, kah ncakagh tanah ye subur." "Oi, kalu maq itu," kate Tuan Guru Sakti Secare Prabu Sahmat ni, "Aku naq milu." "Nah, payulah ughang nam njadi ughang tujuh." Bejalanlah jeme ughang tujuh ini. Dipindqkah cerite, sampai ke daerah Prapau. Kate Tuan Raje, "Kamu ughang nam lajulah, aku kah tinggal di sinilah. Dami kah baliq kele singgahi aku! "Ah, payu," kate jeme ughang nam tadi. Njadi die langsung nyelusuri ayiq demi ayiq.             Sampailah ke Ayiq Beringin. ...

Legenda Gunung Seminung

Gambar
Pada zaman dahulu kala, antara suku dan bangsa di satu pulau dengan pulau lain di dunia ini, terjalin hubungan karena perdagangan. Demikianlah suku Batak yang bermukim di tepi Danau Toba dan sekitar Sumatera, sudah berhubungan baik dengan suku Tagalog di kepulauan Mindanao, Filipina. Lalu lintas dilakukan dengan menggunakan perahu layar mengarungi Lautan Hindia. Rombongan yang berlayar biasanya disertai pasukan bersenjata untuk menghadapi serangan lanau atau bajak laut.           Sekali waktu, rombongan pedagang suku Batak dari pemukiman sekitar Danau Toba dipimpin oleh seorang pemuda remaja bernama Patua Poso, keponakan dari seorang raja di suatu daerah yang bergelar Amang Padoha. Enam perahu layar lengkap dengan pasukan pengawal menuju Mindanao di Filipina.           Seperti biasanya, dalam melakukan perdagangan tukar menukar, rombongan itu beberapa lama di Mindanao. Patua Poso berkena...

Cerita Rakyat Ranau : Hutan Larangan

Gambar
Kampung Sukau mendadak mencekam. Sore ini seorang pencari kayu melaporkan kepada kepala kampung bahwa temannya hilang di hutan. Ini bukan pertama kalinya warga hilang di hutan. Beberapa bulan yang lalu seorang lelaki setengah baya yang tinggal di perbatasan kampung juga tidak pulang-pulang ke rumahnya. Lelaki paruh baya yang hidup sebatang kara itu, menurut laporan tetangga, tak pernah lagi terlihat sejak beberapa waktu yang lalu. Beberapa tetangga terdekat sudah mencari ke beberapa tempat, tetapi hasilnya nihil. Beberapa warga kampung yang sempat berpapasan menyampaikan bahwa lelaki paruh baya itu terakhir terlihat menuju hutan. Sejak saat itu, lelaki paruh baya itu tak pernah lagi terlihat di sekitar kampung. Masyarakat menyebut hutan itu Hutan Seminung karena terletak di kaki Gunung Seminung. Dari kejauhan hutan itu terlihat teduh dan rindang. Pohon-pohon besar yang kokoh sudah tampak berderet-deret di sisi hutan. Pucuk-pucuk daun dari pohon yang besar seperti berlomba-lomb...