Cerita Rakyat Sumsel : Bujang Remalun
Ada satu
negeri yang tenang dan damai. Negeri ini dipimpin oleh seorang raja yang
mempunyai seorang anak laki-laki bemama Bujang Remalun. Bujang Remalun sudah
mempunyai tunangan bernama Putri Kendun. Pada suatu hari Bujang Remalun sedang ikut
membantu warga memperbaiki balai desa. Akan tetapi, malang tak dapat ditolak.
Bujang Remalun mendapat celaka pada saat bekerja. Dia mengalami kecelakaan
sehingga menyebabkan dia meninggal dunia.
Kematian
Bujang Remalun ini sengaja tidak disampaikan kepada tunangannya. Hal itu atas
pesan Raja kepada rakyatnya. Raja berpesan kepada siapa saja yang
memberitahukan tentang kematian anaknya akan dapat hukuman. Bujang Remalun
dikuburkan di Bukit Seenti-Enti di Limau Manis. Di atas kuburannya diletakkan
banyak alat musik milik Bujang Remalun.
Pada suatu
malam roh Bujang Remalun bangkit dan mendatangi rumah Putri Kendun. Sang putri
yang tidak mengetahui kematian Bujang Remalun tidak menyangka jika yang datang
itu adalah roh Bujang Remalun. Sang putri mau saja dibawa pergi. Putri bertanya
pada Bujang Remalun, "Kakak, kenapa jalanmu aneh? Seperti
berayunayun?". Bujang Remalun menjawab, "Aku memakai sepatu
tinggi." Putri bertanya lagi, "Kenapa pula kepalamu jadi lancip
begitu?" "Aku memakai topi panjang," kata Bujang Remalun. Sekali
lagi Putri bertanya, "Tapi kenapa matamu merah?" Bujang Remalun
menjawab, "Aku baru saja menyelam di lubuk yang dalam."
Akhimya,
sampailah mereka di suatu tempat yang terdapat sebuah pondok tempat menumbuk
padi. Berkatalah Bujang Remalun kepada putri, "Hai putri, tunggulah di
sini sebentar. Aku akan menemui ayah dan ibu. Aku akan kembali lagi menjemputmu
di sini." Sang putri menunggu di sebuah kebun, namun hingga sore hari
Bujang Remalun tidak juga menjemputnya.
Ketika sang
putri sedang menunggu datanglah orang yang mempnyai kebun. Dia heran mengapa
tunangan Bujang remalun ada di kebunnya. Lalu dia bertanya, "Hai, Putri,
mengapa kamu di sini?" "Aku menunggu Bujang Remalun," jawab
Putri. Orang tersebut heran dan langsung menemui raja untuk menceritakan hal
itu. Orang tua Bujang Remalun tentu saja terkejut mendengar hal itu. Mereka menyuruh
orang desa itu untuk menjemput sang putri. Mereka juga berpesan supayajangan
mengatakan kalau Bujang Remalun sebenamya sudah meninggal tetapi sedang pergi ke
Palembang. Akhirnya, sang putri mau diajak pulang ke rumah raja sambil menunggu
Bujang Remalun. Bulan demi bulan, bahkan sudah setahun sang putri menunggu,
tetapi Bujang Remalun tak juga kunjung datang.
Pada suatu
hari, ketika raja dan istrinya pergi putri sengaja masak kue
sebanyak-banyaknya. Dia mengumpulkan seluruh penduduk desa di rumah raj a.
Mereka semua disuruh makan kue itu. Setelah makan kue mereka ditanyai oleh sang
putri satu persatu tentang keberadaan Bujang Remalun. Akan tetapi, tidak ada satu
pun yang berani buka mulut. Akhirnya, ada satu anak kecil yang sedang
menggendong adiknya. Putri langsung mengambil anak kecil dalam gendongan itu dan
mengancam akan membunuh anak itu jika dia tidak diberi tahu apa yang terjadi pada
Bujang Remalun. Karena ketakutan adiknya dibunuh, akhirnya anak kecil itu
memberi tahu bahwa sebenarnya Bujang Remalun sudah meninggal dunia. Diajuga
memberitahu putri letak kuburan Bujang Remalun.
Sang Putri
Kendun yang sedih mendengar kabar itu pergi ke kuburan Bujang Remalun. Dia
membawa pisau dan abu seruas bambu. Sesampai di bukit menu ju kuburan, putri
menorehkan pisaunya di bukit itu. Torehan itu diisinya dengan abu tembakau
kemudian diinjakknya sambil berpantun.
Naik tebing Seenti-enti
Berjalan ke Liniau Manis
Sebulan tunduk menangis
Setahun tunduk berhenti
Akhirnya, sampailah dia di puncak bukit. Setibanya
di sana sambil menangis dimainkannya alat-alat musik yang ada di atas kuburan Bujang
Remalun. Dia pun melihat sebatang tumbuhan Kesur. Lantas berpantunlah sang putri.
Sur si kembang kesur
Kesur meluncur ke dunia
Kesurkan daku ke surga
Selesai berpantun tubuh sang putri tiba-tiba
meluncur ke dalam tanah. Sang putri kembali berpantun.
Sur si kembang kesur
Kesur meluncur ke dunia
Kesurkan daku ke surga
Tubuh sang Putri semakin masuk ke dalam tanah
hingga sebatas leher yang tampak. Putri masih terns berpantun.
Sur si kembang kesur
Kesur meluncur ke dunia
Kesurkan daku ke surga
Akhirnya, lenyaplah tubuh sang putri di telan bumi.
Setibanya di surga dia berjalan tak tentu arah. Dia pun bertemu dengan orang yang
sedang menanam padi. Orang itu bertanya kepada putri. "Hendak ke mana
putri. Kalan mati belum ukur kain masih berenda. Anak mata masih
bergerak." "Aku hendak menyusul Bujang Remalun," kata Putri. Putri
pun berjalan lagi dan bertemu dengan orang yang sedang merumput. Sang putri pun
disapa, "Hendak ke mana Putri, kalau mati belum ukur kain pun masih
berenda. Anak matajuga masih bergerak." "Aku mau menyusul Bujang
Remalun," kata sang Putri lagi. "Wah baru saja dia tadi lewat
sini," kata orang itu.
Sang Putri pun menernskan perjalanannya mencari
Bujang Remalun. Di perjalanan dia melihat sebuah pondok tempat seorang nenek
jadi-jadian yang berasal dari seekor harimau. Nenek itu pun bertanya,
"Hendak ke mana Putri, kalau mati belum ukur kain pun masih berenda. Anak
matajuga masih bergerak." "Saya mau menyusul Bujang Remalun,"
jawab sang Putri. "Wah barn saja dia tadi lewat sini," kata nenek
itu. "Biarlah Nek, saya lelah sekali. Bolehkah saya tinggal di sini
sebentar," kata sang Putri. Di pondok itulah Bujang Remalun bersembunyi
setelah disihir oleh nenek itu menjadi gambir. Nenek itu berkata pada sang
Putri, "Kalau kamu memang ingin tinggal di sini, cucilah beras. Tapi
jangan sampai ada yang jatuh satu pun."
Pergilah putri mencuci beras. Setiap ada beras
yangjatuh dipungutinya kembali beras itu satu persatu. Ketika sang Putri sedang
mencuci beras, Bujang Remalun disihir kembali menjadi manusia oleh nenek itu.
Bujang Remalun pun pergi menjala. Sepulang dari mencuci beras, Putri heran
melihat ada ikan di pondok itu sementara nenek tidak pergi ke mana-mana. Sang Putri
pun bertanya, "Nek, ikan siapa ini?" Nenek pun menjawab, "Aku membelinya
tadi."
Keesokan harinya, Putri kembali mencuci beras.
Bujang Remalun juga pergi mencari petai. Sang putri kembali heran saat dia pulang
menemukan ada petai di pondok. Dia mulai curiga ada sesuatu di pondok itu.
Akhirnya, keesokan harinya sang Putri pura-pura pergi mencuci beras. Dia
mengintip apa yang dilakukan nenek itu. Ternyata, betapa kagetnya dia saat
nenek itu menyihir Bujang Remalun menjadi manusia. Pada saat Bujang Remalun
pergi diikutinya dan dipukulpukulnya Bujang Remalun supaya sadar sambil
berkata, "Tuk .. tuk antuk. Ternatukhatiku. Besokjodohku. Sekarang
punjodohku." Bujang Remalun pun seketika sadar. Akhirnya, mereka kembali
ke dunia dan menikah.
Kumpulan Cerita Rakyat Sumatera Selatan/Ery
AgusnKurnianto, Vita Ninnala, dan Erlinda Rosita. - Palembang :Balai Bahasa
Palembang.2009. hlm. 65-69

Komentar