Cerita Rakyat Sumsel : Putri Berambut Putih




Di zaman kekuasaan Sunan Palembang, di desa Perigi marga Kayu Agung kabupaten Ogan Komering Ilir hiduplah seorang putri yang sangat cantik. Kecantikan putri itu terkenal tidak ada yang dapat menandinginya pada waktu itu. Nama putri itu adalah Putri Rambut Putih. Selain cantik Putri Rambut Putih juga terkenal sakti. Jika ia meludahi orang, rambut orang itu akan berubah menjadi putih. Karena itulah dia bemama Putri Rambut Putih. Kecantikan dan kesaktian Putri itu terkenal di seluruh negeri sehingga banyak pemuda ingin melamamya untuk dijadikan istri dan banyak orang tua yang ingin menjadikannya menantu.

Akan tetapi, sayangnya Putri Rambut Putih adalah seorang gadis yang sombong. Siapa pun yang mencoba mendekatinya, dia akan meludahi orang itu hingga menjadi putih. Putri Rambut Putih juga mempunyai seorang kakak laki-laki bemama Langkuse. Dia seorang laki-laki yang gemar bertapa dan mendalarni ilmu kebatinan. Kesaktian Langkuse juga sangat terkenal tidak ada yang dapat mengalahkannya.

Kabar kecantikan Putri Rambut Putih terdengar juga oleh Sunan Palembang. Sunan pun ingin meminang putri. Diutusnya anak buahnya untuk melamar Putri Rambut Putih itu. Mereka membawa banyakbarang yang berisikan berlian, intan, dan emas. Tetapi, seperti biasanya, meskipun membawa segala macam barang mewah utusan itu juga diludahi oleh putri. Tentu saja rambut para utusan Sunan itu menjadi putih seketika. Para utusan itu pun akhirnya pulang mengadukan nasib mereka pada Sunan.

Sunan menjadi malu atas kejadian yang menimpa para utusannya itu. Kemudian Sunan memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki kasus ini. "Coba selidiki kekuatan apa yang dimiliki oleh Putri Rambut Putih itu sebenarnya!" perintah Sunan kepada anak buahnya. Pergilah utusan itu memulai penyelidikan. Mereka bemiat akan menculik putri dan mengintip secara diam-diam kegiatan Putri Rambut Putih. Utusan itu mencari berita tentang kekuatan dan kelemahan putri itu. Dari cerita-cerita yang mereka dengarkan melalui penduduk desa itu, Putri Rambut Putih menjadi sedemikian sombong selain dia merasa cantik dan sakti karena dia juga mempunyai seorang kakak yang juga sangat sakti, yaitu Lengkuse. Akhirnya, para utusan itu memutuskan pulang untuk melaporkan basil penyelidikan itu kepada Sunan.

Mendengar laporan dari para utusan itu, Sunan berpikir. "Kalau begitu aku harus mendapatkan akal bagaimana caranya membunuh Lengkuse. Tanpa Lengkuse tentu Putri itu tidak dapat berbuat banyak." Tiba-tiba Sunan teringat, di belakang desa Perigi itu ada hutan yang dihuni oleh seekor kerbau yang liar dan ganas. Telinga kerbau itu menjadi sarang lebah menandakan betapa ganasnya kerbau itu. Jika kerbau itu mencium ada manusia di dekatnya dia akan mendengus dan mengejar manusia itu sampai dapat. Sunan juga ingat selain kerbau ganas itu ada juga sebuah sumur yang sangat dalam dan besar di hutan itu. Sunan pun mendapatkan ide yang dia pikir sangat bagus untuk mengatasi Lengkuse. Akhirnya berangkatlah Sunan dan para utusannya ke desa Perigi.

Di desa Perigi, Sunan tidak menemui Lengkuse. Dia sedang tidak ada di tempatnya. Temyata Lengkuse sedang bertapa di ujung desa Tulung. Pengawal Sunan pun menemui dia di desa itu. Ketika para utusan itu bertemu dengan Lengkuse mereka pun menyuruh Lengkuse untuk menghadap Sunan. Tanpa memberontak Lengkuse pun menghadap Sunan. "Tuanku, apa titah Tuan kepada hamba sehingga Tuan harus bersusah payah mencari hamba di sini?" kata Lengkuse kepada Sunan. Sunan pun tanpa berpanjang kata langsung berkata, "Hai Lengkuse, di belakang desa itu ada seekor kerbau yang sangat ganas.

Kamu tahu itu kan? Kerbau itu sungguh meresahkan warga desa. Dia suka menghabiskan tanaman di kebun, ladang, dan sawah hingga berbidang-bidang tanaman di sana habis dimakannya. Oleh karena itu, tangkaplah kerbau ganas itu agar masyarakat menjadi tenang. Aku tahu kemampuan kamu sehingga aku memilihmu untuk melakukan ini." Lengkuse pun menjawab perintah Sunan, "Baiklah Tuanku, kalau demikian aku akan melaksanakan perintahmu. Semoga aku dapat melaksanakan perintahmu dengan baik."

Tanpa berpikir panjang lagi, Lengkuse masuk ke dalam hutan di belakang desa Perigi. Dia langsung mencari di mana kerbau ganas itu. Sementara itu, begitu Lengkuse masuk ke dalam hutan itu, kerbau telah mencium adanya manusia. Kerbau langsung mengendus-endus mencari tahu di mana bau manusia itu berasal. Pada saat kerbau itu mencari-cari bau manusia itu, bergemuruh suara yang dikeluarkan karena gerakan kerbau itu sehingga bumi pun bergoyang hebat.

Lengkuse pun segera mengatur sikap tegap siap menghadapi sesuatu yang bakal datang. Bunyi dengusan kerbau pun semakin mendekati tempat Lengkuse berdiri. Begitu melihat seorang manusia di depannya kerbau itu langsung menyeruduk dan menghantamkan tanduknya ke tubuh Lengkuse. Tetapi, dengan sigap Lengkuse dapat menghindari serudukan kerbau itu. Begitu serudukannya tidak berhasil merobohkan lawannya, kerbau itu mengamuk. Dia menerjang semakin ganas ke arah Lengkuse. Kali ini Lengkuse tidak menghindar. Dia sengaja menangkap kedua tanduk yang mengarah ke tubuhnya. Sambil menahan agar tanduk itu tidak mengenai badannya, dia tin ju kepala kerbau itu dengan tenaga kesaktiannya. Han ya dengan sekali pukul kerbau itu langsung terkapar tidak berdaya di hadapan Lengkuse. Dengan gagah dan tenang Lengkuse mengangkat tubuh kerbau itu dan memanggulnya di atas bahunya.

Dibawanya kerbau itu pulang dan diserahkannya di hadapan Sunan. "Paduka, ini kerbau yang Paduka maksud. Sudah saya lumpuhkan," kata Lengkuse kepada Sunan. Sunan terkejut dan kecewa melihat Lengkuse berhasil mengalahkan kerbau itu. Tetapi, dia sudah menyiapkan rencana lain. "Lengkuse, aku hargai keberhasilanmu. Tapi, bolehkah aku meminta pertolonganmu sekali lagi?" Sunan bertanya kepada Lengkuse. "Apa titah Paduka kali ini? jawab Lengkuse. "Cincinku jatuh di sumur yang ada di dalam hutan itu juga. Ambilkanlah untukku," kata Sunan. "Baiklah, paduka. Akan saya laksanakan perintahmu." Tanpa diketahui Lengkuse, di dalam sumur itu sudah dipasang beberapa tombak yang tajam mengarah ke atas. Setelah mendengar perintah Sunan, Lengkuse tidak berpikir panjang langsung terjun masuk ke dalam sumur itu. Sunan berpikir kalau kali ini pasti Lengkuse akan langsung tewas begitu masuk ke dalam sumur. Tetapi, rupanya Sunan salah lagi. Begitu terjun ke dalam sumur terdengar suara gemeretak kayu-kayu patah. Temyata itu suara tombak-tombak yang patah karena ditimpa tubuh Lengkuse. Sementara, tubuh Lengkuse sama sekali tidak tergores sedikit pun.

Akhimya, Lengkuse berhasil mengambil cincin itu dan diserahkan kepada Sunan. Sunan pun kembali kecewa. Akhimya, Sunan dan rombongan utusan kembali pulang. Sesampainya di riegri Palembang, Sunan mengadakan rapat untuk membahas apa yang sudah terjadi. Seluruh hulubalang berkumpul. Sunan bertanya kepada para hulubalang yang berkumpul, "Siapa di antara kalian yang sanggup mengambil Putri Rambut Putih?" Semua yang ada di ruangan itu tidak ada yang menjawab. Semua terdiam hingga akhimya Sunan berkata, "Baiklah kalau memang tidak ada yang sanggup. Kita akan membuat sungai sebagai jalur pintas dari Teloko hingga ke Tanjung Agung. Kita harus segera menggali sungai itu."

Sunan pun mengerahkan seluruh warga masyarakat untuk melaksanakan tugas yang dia perintahkan. Mereka mulai menggali sungai sebagai jalur pintas yang mengarah ke desa Perigi. Akhirnya, sungai itu pun selesai. Berangkatlah Sunan beserta para hulubalang utusan Sunan melalui sungai yang digali rakyat Palembang. Sesampainya Sunan di batas Tanjung Agung, dia mendarat dan berjalan kaki. Jarak Tanjung Agung ke desa Perigi kira-kira dua kilometer.

Sementara itu, Putri Rambut Putih tinggal sendiri di rumah. Kakaknya, Lengkuse sedang bekerja di sungai. Putri Rambut Putih sedang asyik membuat periuk sehingga tidak sadar ketika Sunan dan utusannya masuk ke rumahnya. Sunan pun berhasil menculik Putri clan berhasil membawanya ke kapal clan dimasukkan ke dalam sebuah kamar. Ternyata kejadian itu diketahui oleh warga sekitar rumah Lengkuse.

Kejadian itu langsung dilaporkan kepada Lengkuse yang sedang bekerja di sungai. "Lengkuse, aku melihat ada rombongan Sunan Palembang membawa adikmu ke kapal. Dia sudah menculik adikmu," kata orang itu kepada Lengkuse. Lengkuse menjawab, "Biarlah. Pulanglah kamu." Oleh karena mendapatkan reaksi dari Lengkuse, orang itu pun pergi.

Datanglah orang kedua memberi tahu Lengkuse. "Lengkuse, lihatlah cepat. Adikmu dibawa lari oleh Sunan." Lengkuse masih saja bergeming, tidak bereaksi. Dia hanya menjawab, "Sudah kukatakan. Biarlah. Saya sedang tanggung mengerjakan kerjaan saya ini. Pulanglah kamu." Orang kedua ini pun pergi mendengar jawaban Lengkuse. Akhirnya datanglah orang ketiga mencoba memberi tahu kepada Lengkuse. Kali ini kerjaan Lengkuse kebetulan sudah selesai. "Lengkuse, adikmu diambil Sunan. Dia membawanya ke kapal di ujung desa sana." Lengkuse bertanya kepada orang itu, "Di bawa ke mana adikku?" "Ke kapal. Di Sungai di batas desa Taojung Agung." Lengkuse berkata kepada orang yang memberi tahukan kepadanya itu, "Pulanglah kamu. Aku akan menyusul adikku." Setelah berpakain dan bersiap Lengkuse langsung pergi. Sekali lompat saja Lengkuse sudah sampai ke Tanjung Agung tempat kapal Sunan berlabuh. Lengkuse berkata kepada Sunan, "Paduka, tolong imbangi kekuatan kapalmu ini. Saya akan turun ke kapal." Sunan menjawab, "Kalau mau turun, turunlah."

Sunan tidak berpikir kalau Lengkuse mengetahui ada adiknya di kapal itu. Lengkuse yang mengingatkan Sunan kembali berkata, "Nanti kapal Paduka tenggelam kalau tidak diimbangi." "Tidak akan. Kapalku kuat, jawab Sunan. Akhirnya, Lengkuse pun melompat ke dalam kapal. Begitu Lengkuse masuk ke kapal tiba-tiba kapal itu oleng dan miring sedikit demi sedikit. Sunan dan hulubalang keheranan. mereka bingung apa yang terjadi dan panik melihat kapalnya semakin lama semakin tenggelam. Karena kepanikan dan kebingungannya itu Sunan sampai tidak menyadari jika Putri Rambut Putih sudah diambil oleh Lengkuse. Mereka juga tidak menyadari kapan Lengkuse membawa adiknya itu pergi dari kapal.

Karena kecewa dan dendam yang besar kepada Lengkuse dan Putri Rambut Putih, Sunan pun pulang kembali ke Palembang. Karena kekecewaannya itu juga Sunan berpesan kepada seluruh keluarga dan warga masyarakat di Palembang. "Mulai saat ini, jangan sekali-kali kalian mengambil anak atau keturunan Kayu Agung untuk dijadikan menantu. Kalau kalian melanggar pantangan ini, apa boleh buat kalian tidak akan selamat, kalian akan celaka!" Menurut cerita ini, sampai saat ini orang Palembang asli keturunan Sunan tidak ada yang berani menjodohkan anak keturunannya dengan anak keturunan orang Kayu Agung. Mereka takut dengan sumpah yang diucapkan oleh Sunan.


Kumpulan Cerita Rakyat Sumatera Selatan/Ery AgusnKurnianto, Vita Ninnala, dan Erlinda Rosita. - Palembang :Balai Bahasa Palembang.2009. hlm. 70-76

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deskripsi Puyang di Sumatera Selatan

Cerita Rakyat Sumsel : Bujang Remalun