Danau Ranau: Kehidupan di Hulu Ogan-Komering



Bukit-bukit berjajar mengelilingi hamparan air kebiruan di sebuah danau yang berada di area Sesar Semangko.Sementara itu, gunung api yang puncaknya terkesan kabur diselimuti awan terlihat kokoh berdiri di seberangtenggara dan dikenal dengan nama Gunung Seminung. Pemandangan elok tersebut merupakan secuil kesan pertama yang dapat kita saksikan di lingkungan sekitar Danau Ranau. Danau Ranau merupakan danau ‘tektovulkanik’ yang terhampar di atas sebuah kaldera berumur Pleistosen (lihat Bemmelen, 1970; Verstappen, 1973). Meskipun telah lama mati, konon pada akhir abad ke-19 M hingga awal abad ke-20 M kaldera tersebut masih menunjukkan aktivitasnya dengan menyemburkan mineral beracun serta sengatan aroma sulfur yang khas dikeluarkan oleh kawah gunung api. Selain mengakibatkan perubahan warna air danau, aktivitas vulkanik tersebut juga menyebabkan banyaknya ikan dan biota penghuni danau tersebut mati (lihat Figee dan Onnen, 1890).

Evolusi geologi danau seluas 16 × 12,5 meter ini bermula dari terbentuknya cekungan akibat sesar pisah tarik (pull-apart fault). Akibat proses tektonik tersebut muncul gunung api (Gunung Ranau dan Gunung Seminung) serta beberapa titik semburan panas bumi, terutama di sebelah tenggara. Proses ini diikuti perkembangan kaldera-kaldera kecil dan peningkatan aktivitas vulkanik yang kemudian memperluas kaldera tersebut (Tibaldi, 2010). Kaldera tersebut akhirnya runtuh dengan morfologi memanjang timur laut-barat daya akibat dipengaruhi oleh orientasi tren sesar regional berarah barat laut-tenggara (Verstapen, 1973; Gafoer et al., 1993). Sejarah geologi menunjukkan erupsi terdahsyat dari kaldera Gunung Ranau terjadi sekitar 55.000 tahun lalu yang ditunjukkan oleh endapan hasil aliran piroklastik dan tuf setebal ratusan meter dengan luas mencapai 140 km2 di sekitar Danau Ranau (Bemmelen,1970; Tjia dan Ros Fatihah, 2008).

Danau Ranau terletak di dua provinsi, yaitu Sumatra Selatan dan Provinsi Lampung, tepatnya di posisi 4°51’45” Bujur Selatan dan 103°55’50” Bujur Timur dengan elevasi sekitar 550 mdpl. Luas Danau Ranau mencapai 11.250 ha dengan kedalaman maksimum mencapai 220 m. Sebagian besar area danau ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Karena lokasinya yang rendah, banyak sungai yang masuk ke danau ini sebagai inlet. Sungai-sungai tersebut, antara lain Sungai Sebarak, Sungai Kangkung, Sungai Sebakau, Sungai Upang, Sungai Segaroh, dan Sungai Way Rekuk. Sungai Way Rekuk merupakan sungai terpanjang yang masuk ke Danau Ranau, tepatnya di daerah Kotabatu. Di samping sungai-sungai inlet tersebut, dijumpai juga sungai tempat keluarnya air danau/outlet. Sungai-sungai tersebut, antara lain Sungai Kepahiang dan Sungai Selabung. Sungai Selabung inilah yang kemudian menjadi hulu dari Sungai Komering (Sumsel dalam Angka, 2011).

Terdapat berbagai jenis tumbuhan yang paling dominan dan hidup terapung di atas permukaan air, antara lain eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan sejenis alga, sedangkan di tepi danau banyak terdapat semak belukar. Jenis ikan yang hidup di perairan danau dan yang paling dominan adalah ikan mujair (Oreochromis mossambicus) dan ikan salam (famili Salmonidae). Ikan-ikan tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar yang bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Hingga kini, Danau Ranau masih berperan besar di sektor perikanan, transportasi, wisata, pertanian, air baku, dan pembangkit tenaga listrik. Berkat keberadaan danau tersebut, masyarakat berhasil mengembangkan perekonomiannya melalui pembuatan keramba ikan serta berperan aktif di sektor jasa pariwisata (Sumsel dalam Angka, 2011).

Sumber : GUA HARIMAU DAN PERJALANAN PANJANG PERADABAN OKU, Hak Penerbitan © 2015 Gadjah Mada University Press hal 25-27

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deskripsi Puyang di Sumatera Selatan

Cerita Rakyat Sumsel : Putri Berambut Putih

Cerita Rakyat Sumsel : Bujang Remalun