Uluan dan Peran Pasirah di Pedalaman Sumsel





Pedalaman Palembang, secara politis dikenal dengan istilah wilayah uluan, sebagai sebuah dikotomis dari wilayah iliran, ibukota Palembang. Uluan Palembang dianggap wilayah “taklukan” dari penguasa di iliran, namun menariknya uluan merupakan tanah yang masih memiliki kekuatan-kekuatan otonom dan merdeka. Palembang sebagai daerah pusatnya hanya butuh sebuah “pengakuan” saja, dan uluan-uluan itu “mengakui” dalam bentuk konsep ritual milir sebah. Sekali-sekali, terutama sekali setahun dalam bulan ramadhan, menjelang lebaran, milir sebah, mengilir datang ke pusatnya di Palembang, sambil membawa barang-barang upeti gegawaan, hasil bumi daerah uluan, untuk dipersembahkan kepada penguasa di pusat. Sebagai imbalannya, pusat akan memberi perlindungan kepada daerah-daerah uluan yang mengadakan milir sebah.
Daerah otonom, di uluan ini, terpilah-pilah dan terpisahkan satu sama lain dalam bentuk pemerintahan kemargaan, marga. Marga ini berbentuk sebuah wilayah yang lebih banyak ditentukan berdasarkan wilayah administrasi genealogis, seketurunan. Wilayah uluan Palembang dikuasai oleh elit-elit para “orang besar” dan “orang kaya” yang umumnya berasal dari satu kekuatan saja, yakni para pasirah. Mereka ditempatkan sebagai “orang besar” karena struktur politik dan “orang kaya” karena sistem ekonomi yang terbentuk sedemikian rupa. Sebagai “orang besar” pasirah memiliki dua peranan dalam masyarakatnya, yakni sebagai kepala pemerintah, kedudukannya adalah pemimpin politik marga dan sebagai kepala adat, kedudukannya sebagai pemimpin sosial. Kemakmuran komersial didaerahnya masing-masing menyebabkan mereka dapat tumbuh sebagai agen perdagangan, selain penguasa lokal, dalam proses melibatkan arus barang dan jasa ke ibukota. Mereka adalah pengendali-pengendali perdagangan di uluan, muara-muara sungai masing-masing.
Menariknya, sebagai “orang besar”, sekaligus “orang kaya” ditingkat lokal para pasirah berusaha membedakan diri dari masyarakat lain dalam marganya, sekaligus usaha kontestasi dengan antar pasirah lainnya, baik secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. Pada tataran ini mereka kemudian berusaha memainkan kuasa simbolik, semacam kuasa untuk menentukan instrument-instrument pengetahuan dan ekspresi kenyataan sosial secara semena, tetapi seperti teori Bourdieu (1995: 168) yang kesemenaan tidak disadari.
Lambang-lambang sebagai simbol religio-magis, maupun religio-ekonomis menjadi arena visual, komunalistik, dan konkrit yang dipertontonkan dalam pertunjukkan kuasa simbolik tersebut. Lambang dihubungkan dengan hal yang melekat pada sesuatu, orang atau sekelompok orang, dalam hal ini mengacu pada manusia. Manusia pada hakaketnya adalah makhluk yang bersifat individu sekaligus sosial. Simbol dari lambang kekayaan para pasirah sebagai penguasa lokal di uluan Palembang dimaknai sebagai kelebihan yang dimilikinya, sekaligus ketidakmilikan dan ketidakmampuan pada sekelompok orang lainnya. Oleh karena itu, lambang ini merepresentasikan simbol perbedaan, bukan hanya sekedar materi, tetapi pada tindakan dan gerak dinamika dari sebuah kuasa simbolik yang dimainkannya. Jadi, makna ini kemudian diwujudkan dalam bentuk tindakan bersifat simbolik dan dramatis.
Lambang sebagai simbol perbedaan tersebut lahir dan membentuk struktur sosial. Struktur sosial merupakan pola perilaku dari setiap individu masyarakat yang tersusun sebagai suatu sistem. Setiap individu mempunyai ciri dan kemampuan sendiri, sehingga perbedaan tersebut memposisikan diri sebagai penyebab timbulnya perbedaan sosial. Perbedaan membentuk lapisan bertingkat, stratifikasi, dalam stratifikasi ini ukuran dalam lapisanlapisan ini memiliki tiga komponen yakni ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan dan ukuran kehormatan, inilah yang kemudian melahirkan elit-elit lokal pada suatu masyarakat. Ukuran-ukuran seperti itu yang melahirkan elit di daerah uluan Palembang, seperti kelompok politik dan ekonomi para pasirah, kelompok spiritual para dukun, kelompok agama para haji dan kelompok cendikia para pelajar terdidik. Pada tulisan ini hanya dilihat padaelit pasirah saja.
Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orangorang yang tidak kaya, atau kekuasaan bisa mendatangkan kekayaan. Oleh karena itu, tidak mengherankan dalam narasi Kathirithamby-Wells (1986: 256-67) “orang besar” dapat menjadi “orang kaya”. Pada beberapa kasus, terutama pendekatan agama, lambang kekayaan diidentifikasikan dengan kesederhanaan. Namun dalam perbincangan ini, ukuran kekayaan jelas berupa materi dan kebendaan dapat dijadikan ukuran penempatan posisi anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan yang ada. Oleh sebab itu, secara visual dan konkrit kekayaan dapat dilihat antara lain dalam bentuk tempat tinggal, cara berpakaian, benda-benda tersier yang dimilikinya, maupun kebiasaan dalam berbelanja.
Uraian di atas menunjukkan bahwa lambang kekayaan ekonomi dipandang sebagai suatu simbol. Sebagai simbol, lambang ini merepresentasikan makna dengan memiliki beberapa fungsi penting, tidak saja sebagai pemupukan materi semata, yang berfungsi membedakan diri, namun juga dapat dimaknai secara sosio-kultural, sebagai usaha konstelasi dan kontestasi pada entitas “sejajarnya” atau usaha reposisi asimilatif dan proses adaptatif sekaligus resistensif pada entitas lain yang ada “di atas” strukturnya.
Genesis kekuasaan ditelaah oleh Wisseman Christie (1995: 235-88) ketika berbicara mengenai dunia maritim Asia Tenggara. Jaringan individu di luar pusat kekuasaan kerajaaan, melalui perdagangan dan memperoleh pengikut sebagai sumber dayanya dikaji oleh Watson Andaya (1993). Tulisan ini sejatinya adalah bentuk lain dari sejarah ekonomi, tentang pertumbuhan ekonomi para elit lokal di uluan Palembang. Namun titik berat kajiannya adalah suatu usaha untuk melihat dan menafsir fenomena lain sebagai ekses dari pertumbuhan ekonomi tersebut, yakni implikasi sosial budayanya, yang hadir dalam realitas sosial dari sebuah kondisi ekonomi tersebut.


Sumber : Dedi Irwanto dalam Jurnal Lembaran Sejarah Univ, Gajah Mada, Volume 13 Number 1 April 2017


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deskripsi Puyang di Sumatera Selatan

Cerita Rakyat Sumsel : Putri Berambut Putih

Cerita Rakyat Sumsel : Bujang Remalun