Cerita Rakyat Ranau : Rakian Sukat (Hutan Larangan 2)


Puluhan tahun berlalu sejak kejadian hilangnya beberapa warga kampung di Hutan Seminung. Kehidupan di Kampung Sukau kembali tenteram karena masyarakat sudah tidak ada lagi yang pergi ke hutan untuk mencari kayu, mengambil hasil hutan, atau berburu. Orangorang tua selalu mengingatkan anak dan cucu mereka agar tidak mendekati Hutan Seminung.
Suatu ketika datanglah seorang pemuda memasuki Kampung Sukau. Pemuda itu bertubuh tegap. Postur tubuhnya lebih tinggi dari postur warga Kampung Sukau pada umumnya. Kulitnya coklat cenderung gelap. Hidungnya mancung. Alisnya tebal. Panjang rambutnya hampir sebahu. Apabila tersenyum, tampak sebuah lesung pipi yang menambah manis wajahnya.
       Karena keelokannya, masyarakat sekitar yang pernah berpapasan memanggilnya dengan sebutan ”si Tampan”.
Pemuda tampan itu hendak mencari tempat untuk bertapa. Sebelum menemukan tempat yang cocok, dia mampir sejenak di Kampung Sukau sekadar melepas lelah dan bertegur sapa dengan penduduk Kampung Sukau. ”Rakian Sukat!” demikian pemuda tampan itu memperkenalkan dirinya kepada setiap orang yang ditemuinya.
Rakian Sukat berteduh di bawah sebatang pohon dekat rumah di persimpangan menuju Hutan Seminung. Setiap orang yang lewat ditegurnya dengan ramah. Rakian Sukat merebahkan badannya sejenak untuk melepaskan rasa letih yang dirasakannya setelah perjalanan jauh.
Setelah istirahatnya dirasa cukup, Rakian Sukat pun berniat meneruskan perjalanan mencari tempat bertapa. Intuisinya mengatakan bahwa dia harus berbelok ke kanan menuju Hutan Seminung. Rakian Sukat segera bangkit. Dengan mantap dilangkahkanlah     kakinya menuju Hutan Seminung. Akan tetapi, baru beberapa langkah beranjak dari tempat dia beristirahat,
Rakian Sukat tertegun karena tiba-tiba dari arah berlawanan seorang laki-laki tua berjanggut putih berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya. Rakian Sukat melempar senyum untuk menyapa si bapak tua. Mereka pun akhirnya saling memperkenalkan diri.
”Masyarakat memanggil saya dengan sebutan ’Buya Ratun’,” ujar si bapak tua memperkenalkan diri. ”Kalau boleh tahu, hendak kemanakah Ananda ini?” lanjutnya.
”Saya hendak melakukan pertapaan untuk mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa, Buya. Naluri saya mengatakan agar saya melakukan pertapaan di atas bukit di hutan sana,” ujar Rakian dengan santun. Buya Ratun sejenak tertegun. ”Apakah Ananda sebelumnya pernah ke hutan itu atau sudah tahu tentang hutan itu?” tanya Buya Ratun lagi dengan tatapan serius.
”Tidak, Buya, saya sama sekali belum tahu tentang hutan itu. Saya hanya mengikuti kata hati saya. Guru saya mengatakan bahwa di mana pun tempat di bumi ini baik selama kita juga baik. Oleh karena itu, saya melangkah saja ke mana kaki membawa,” jawab Rakian Sukat berfilosofi.
Buya Ratun mengamati Rakian Sukat dengan saksama. Entah mengapa, dia seolah melihat kekuatan tersembunyi di balik wajah tampan Rakian Sukat. Namun, dia tak bisa membiarkan Rakian Sukat meneruskan perjalanannya menuju Hutan Seminung.
Kenangannya tentang penduduk yang hilang di Hutan Seminung puluhan tahun yang lalu membuatnya tak tega membiarkan Rakian Sukat memasuki hutan larangan itu.
”Ananda Rakian Sukat, saya menghormati keinginanmu untuk bertapa di Hutan Seminung. Akan tetapi, tahukah kau, Nak? Hutan itu telah banyak memakan korban,” ujar Buya Ratun dengan nada lirih. Buya Ratun adalah tukang kayu yang selamat saat memasuki hutan larangan puluhan tahun silam.
 Setelah merenung sesaat, Buya Ratun pun menceritakan perihal hilangnya beberapa orang penduduk desa dan seorang sahabatnya di hutan larangan. Dia juga bercerita perihal hilangnya hewan ternak peliharaan penduduk yang digembalakan di lapangan dekat Hutan Seminung. ”Hingga kini tak satu pun orang yang hilang itu dapat kembali ke desa,” ujarnya lirih. ”Lalu, apakah ada yang tahu ke mana hilangnya orang-orang itu, Buya?” ujar Rakian sambil mengernyitkan dahi.
”Orang-orang itu hilang di pohon haru besar di dalam hutan. Konon pohon besar itu memiliki kekuatan yang membuat siapa pun yang melihat tertarik untuk memanjatnya. Di atas pohon itu hidup ribuan ular.
Kulit kayunya tajam menyerupai ribuan mata pedang yang menancap. Sejak kejadian hilangnya beberapa penduduk desa itu tak ada lagi masyarakat yang berani berburu dan mencari kayu di Hutan Seminung.”
Wajah Buya Ratun menyiratkan kesedihan dan ketakutan. Dia kemudian meminta Rakian Sukat agar membatalkan rencananya untuk bertapa di Hutan Seminung.
”Nak Rakian, kalau saya boleh berpendapat, sebaiknya urungkan saja niatmu untuk bertapa di hutan. Saya khawatir dengan keselamatan Ananda,” ujar Buya Ratun.
”Terima kasih, Buya. Saya prihatin mendengar cerita Buya. Akan tetapi, rasa kemanusiaan saya makin meyakinkan saya untuk segera menebang pohon penebar bencana itu. Saya siap dengan segala risiko yang akan saya terima. Saya yakin, dengan izin Yang Mahakuasa  saya mampu mengalahkan makhluk-makhluk penghuni pohon itu.
Saya akan berusaha menebang pohon itu agar tak ada lagi orang yang takut memasuki Hutan Seminung,” ujar Rakian Sukat dengan geram.
”Baiklah, Anak Muda, jika memang itu keinginanmu, persiapkanlah dirimu dengan baik. Semoga keinginan dan keyakinanmu yang kuat dapat membuahkan hasil,” ujar Buya Ratun.

Buya Ratun tak lagi dapat mencegah keinginan Rakian Sukat. Akhirnya, dia pun melepas kepergian Rakian Sukat dan tak lupa mendoakan semoga Rakian Sukat berhasil menebang pohon haru yang dihuni ribuan ular itu.



Sumber :
            Judul Buku : Naga Emas Danau Ranau Cerita Rakyat dari Lampung
Penulis : Yulfi Zawarnis
Penyunting : Sulastri
Ilustrator : Pandu Dharma
Penata Letak : Maliq
Diterbitkan pada tahun 2016 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun Jakarta Timur

Nge-Posting : Nur Ikhsan D.C, S.Hum

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deskripsi Puyang di Sumatera Selatan

Cerita Rakyat Sumsel : Putri Berambut Putih

Cerita Rakyat Sumsel : Bujang Remalun