Cerita Rakyat Sumsel : Puyang Ndikat
Puyang Mu'min atau sering disebut Puyang Ndikat berasal dari daerah
Endikat Pagar Alam. Beliau seorang pemuda yang berbudi luhur, berhati mulia,
ramah tamah kepada setiap orang. Puyang Mu'min
suka mengembara dari dusun satu ke dusun lainnya. Ia mengembara menyelusuri
Sungai Lematang.
Suatu hari, tibalah dia di dusun Ujanmas yang makmur dan ramai
penduduknya. Dia berkeinginan untuk menetap di dusun Ujanmas. Dia menemui
penguasa Ujanmas, Puyang Bayib (Syeh H. Burlian). Latu dia memberitahukan
keinginannya untukmenetap di Ujanmas. Keinginan Puyang Ndikat itu disambut baik
oleh Puyang Bayib. Akhirnya dia pun menetap di Ujanmas dengan menginap di rumah
Puyang Bayib.
Semenjak Puyang Ndikat tinggal. di Ujanmas banyak hal aneh yang terjadi
di Ujanmas. Penduduk Ujanmas sering kali terheran heran dibuatnya. Memang
Puyang Ndikat dikenal sakti, tetapi kesaktiannya tidak pemah ditunjukkan kepada
orang lain. Begitu juga dengan Puyang Bayib. Dia seorang ulama besar yang
selalu berbuat kebaikan kepada sesama orang. Dia terkenal sebagai penghafal
Alquran dan memahami ilmu hadis. Hal ini membuat dia termashur kemana-mana.
Bodi luhumya tersebar ke dusun-dusun tetangga. Dia suka sekali menolong orang
yang mengalami kesulitan.
Sebagaimana dikisahkan pada suatu masa di musim kemarau nan panjang.
Terjadilah kekeringan di daerah Ujanmas. Sungai Lematang meniadi surut hingga
rakit-rakit yang membawa barang-barang dagangan yang hendak di bawa ke
Palembang menjadi terhambat. Para pedagang memohon kepada Puyang Bayib untuk
mendoakan agar Sungai Lematang berair lagi. Dengan senang hati Puyang Bayib
berdoa kepada Allah agar segera didatangkan hujan. Tak lama kemudian hujan
deras pun turun membasahi daerah Lematang. Lalu Puyang Bayib mengambil sebuah guci
ajaib miliknya. Guci tersebut diisinya air lalu diletakkannya di tepi Sungai
Lematang. Tak lama kemudian Sungai Lematang besar sebatas letak guci tadi.
Tidak terasa cukup lama sudah Puyang Ndikat tinggal di Ujanmas. Dia
sangat disayangi oleh Puyang Bayib. Puyang Ndikat sangat menguasai ilmu ilmu
penyamaran. Oleh karena itu, dia ditugasi oleh Puyang Bayib untuk menyamar.
Dalam penyamarannya, dia harus menguji bagaimana keimanan rakyatnya ditengah
kehidupan yang berkecukupan. Lalu Puyang Ndikat pun melaksanakan tugasnya dengan
sungguh-sungguh. Mula-mula dia menyamar menjadi orang gila yang kelaparan. Dia
berkeliling kampung meminta nasi dan air minum kepada penduduk. Akan tetapi,
bukan makanan dan minuman yang didapat tetapi cacian dan makian yang
didapatnya. Anak-anak kecil banyak mendatangi dan mengolok-oloknya. Bahkan
mereka melempari Puyang Ndikat dengan kerikil dan tanah.
Beberapa penyamaran lain pun dilakukan oleh puayang Ndikat. Penyamaran
terakhir dilakukan oleh Puyang Ndikat adalah menjadi orang yang mempunyai penyakit
yang menjijikan. Dia mempunyai borok yang penuh nanah yang tersebar diseluruh
tubuhnya. Lalu dia berkeliling kampong, berhenti dari rumah ke rumah. Dia
meminta obat kepada setiap orang yang disinggahinya. Tetapi orang yang
disinggahi merasa jijik melihat penyakit yang dideritanya.
Dalam perjalanannya, dia melihat ibu-ibu duduk berjejer di tangga rumah
sambil mencari kutu. Lalu ia menegur para ibu itu, "Wahai saudaraku!,
kalau perbuatan kalian begini terus maka hidup kalian tidakakan tenteram.
Kebiasaan mencari kutu tidaklah buruk. Akan tetapi, sambil mencari kutu
membicarakan aib orang lain, itu tidaklah baik. Aib orang sangat tidak pantas
untuk dibicarakan"
Mendengar nasihat orang yang tidak jelas asal usulnya, para ibu pun marah
dan mengusirnya- dengan kasar. Puyang Ndikat pun berlalu. Dia bermaksud
mendatangi rumah Puyang Bayib. Tanpa ragu, dia bertamu ke rumah Puyang Bayib.
Puyang Bayib menerimanya dengan baik dan mempersilakannya masuk.
Tuan, apakah Tuan tidak jijk melihat dan berdekatan dengan saya?"
kata Puyang Ndikat yang masih dalam penyamaran. "Sepanjang perjalananku
semua orang tidak peduli kepadaku. Mereka sangat jijik melihat aku, Tuan".
Mendengar perkataan Puyang Ndikat yang masih menyamar tersebut, Puyang Bayib
menangis tersedu. Dia merasa sedih karena rakyatnya bersikap demikian. Lalu,
Puyang Bayib keluar Mendengar perkataan Puyang Ndikat yang masih menyamar tersebut,
Puyang Bayib menangis tersedu. Dia merasa sedih karena rakyatnya bersikap
demikian. Lalu, Puyang Bayib keluar dari rumahnya.
Dia menemui rakyat yang menanti di halaman rumahnya. Kemudian dia berkata.
,"Wahai rakyatku ! Kalian telah mendustakan agama kita. Kita sebagai
muslim seharusnya tolong menolong antarsesama. Meskipun orang yang kita temui
tidak pantas menurut kita. Seharusnya kita berbuat baik terhadap semua makhluk
Allah karena hidup kita tidaklah lama. Saya mohon kepada kalian untuk insyaf
dan segeralah bertobat kepadaAllah !". Mendengar perkataan Puyang Bayib,
penduduk menjadi heran dan ketakutan. Penduduk bertanya-tanya dalam hati, ada
apakah gerangan sehingga Puyang Bayib berkata demikian dan marah-marah.
Mengetahui rakyatnya kebingungan dan ketakutan, Puyang Bayib melanjutkan perkataannya.
"Rakyatku, saya yang menugaskan Puyang Ndikat menyamar dalam berbagai rupa
untuk menguji keimanan kalian semua!. Saya sangat sedih atas perbuatan dan
sikap kalian yangjauh dari harapanku! Kalian semua tidak peduli terhadap
penderitaan sesama. Bukannya menolong, tetapi kalian menghina dia. Oleh karena
itu, segeralah memohon ampun dan bertobat lah kepada Allah!".
Tidak lama kemudian, Puyang Ndikatkeluar rumah. Dia tersenyum kepada
semua orang seakan tidak ada yang pemah menyakiti hatinya.Semua penduduk pun
tercengang dibuatnya. Menyadari kesalahan yang terjadi, secara serentak penduduk
menangis menyesali perbuatan meraka. Mereka meminta maaf kepada Puyang Bayib
dan Puyang Ndikat. Mereka berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Mereka pun bertobat kepada Allah.
Merasa tugasnya di Ujanmas selesai, Puyang Ndikat berpamitan kepada
Puyang Bayib. Dia akan melanjutkan pengembaraannya ke desa lain. Dia bemiat
menelusuri Sungai Lematang. Dia terus mengembara dan mencari pengalaman yang
diyakininya akan berguna di kehidupannya mendatang.
Sekian lama meninggalkan Ujanmas, muncullah kerinduannya untuk
mengunjungi Ujanmas. Dia melakukan penyamaran kembali. Kali ini Puyang Ndikat
menyamar menjadi orang miskin. Dia berkeliling kampung mengitari rumah
penduduk. Penduduk yang rumahnya didatangi si miskin mau mempersilakan si
miskin mampir. Mereka bahkan memberi si miskin makanan meskipun ala kadarnya.
Mereka juga membolehkan si miskin beristirahat di dekat rumah mereka.
Puyang Ndikat merasa senang karena rakyat Ujanmas sudah berubah menjadi
manusia yang berbudi baik. Mereka tidak sombong lagi dan tidak silau dengan
kehidupan dunia yang penuh dosa. Setelah berpamitan dengan tuan rumah, Puyang
Ndikat menemui Penguasa Ujanmas yaitu Puyang Bayib.
Kala itu Puyang Bayib sudah tua renta. Dia sangat senang karena dapat
bertemu kembali dengan Puyang Ndikat. Mereka pun saling bertanya kabar dan
melepas rindu sambil bertukar cerita. Akhirnya, Puyang Ndikat menjelaskan
maksud kedatangannya ke Ujanmas. Puyang Ndikat berniat berpamitan karena dia
akan kembali ke Pagar Alam. Dia berkeinginan kembali ke daerahnya Sebelum
pergi, Puyang Ndikat memberikan sebuah keris sebagai kenang-kenangan kepada
Puyang Bayib. Begitu pula sebaliknya, Puyang Bayib memberikan oleh-oleh kepada
Puyang Ndikat. Mereka pun berpisah meskipun dengan berat hati. Mereka berjanji
untuk tetap menjalin tali silaturrahim.
Semenjak kejadian itu, penduduk Ujanmas selalu baik hati kepada setiap
orang yang berkunjung ke daerahnya. Mereka selalu menghormati tamu dan berbuat
baik terhadap sesama. Sampai sekarang, apabila ada orang asing yang datang menyerupai
penyamaran Puyang Ndikat, mereka selalu menyebutnya orang Dikat (Orang
halus).
Kumpulan
Cerita Rakyat Sumatera Selatan/Ery AgusnKurnianto, Vita Ninnala, dan Erlinda
Rosita. - Palembang :Balai Bahasa Palembang.2009. hlm. 143-148
BY.
Nur Ikhsan DC, S.Hum

Komentar