Cerita Rakyat Suku Aji : Beghuk Pekagha dengan Landak





Waktu hatu Beghuk bebantahan dengan Landak. Cawa Landak, "Aman dughian titik bunyinya raras (bunyi daun-daun) gum (nimpa tanah). "

Cara Beghuk lain, "Aman dughian titik, bunyinya gum nimpa daun-daun, lalu gum nimpa tanah. " Teghus bebantahan beghuk dengan Landak, nak menang segala. Akhignya, Beghuk dengan Landak ngadu dengan ghaja Minta peghtimbangan. Hukumannya, sapa si salah, dihukum pancung, hukum mati.

Ulih pekagha Beghuk dengan Landak hatu, bepikigh ghaja di dalam hati, "Aman Beghuk dikalahkan, Beghuk di hukum mati, tapi daging Beghuk adak pacak dimakan. Aman Landak dikalahkan, dihukum mati, daging Landak pacak dimakan, aku mik hasil. Aman Beghuk si dikalahkan demik hasil. "

Walaupun Beghuk si salah, Landak si benogh, tapi oleh ghaja Landak si dikalahkan sebab ghaja pingin dengan daging Landak. Laju Landak dihukurn pancung. Dagingnya diakuk ghaja.



Terjemahan


Pada suatu waktu Beruk berbantah-bantahan dengan Landak. Kata Landak, "Kalau durian runtuh, bunyinya raras (menimpa dedaunan) setelah itu gum (menimpa tanah)" .
Lain pula pendapat Beruk. "Kalau durian runtuh bunyinya gum (menimpa dedaunan) raras (menimpa tanah)."

Mereka terus berbantahan. Masing-masing mengaku benar. Akhirnya, Beruk dan Landak menemui raja untuk minta pertimbangan. Hukumnya, siapa yang salah, akan dipancung lehernya.

Setelah bertemu dengan raja, Beruk dan Landak menceritakan perbedaan pendapat mereka terhadap bunyi buah durian runtuh itu . Raja berpikir sejenak. Katanya dalam hati, "Kalau Beruk yang salah, Beruk akan dihukum mati, tetapi daging Beruk tidak bisa dimakan. Akan tetapi, kalau Landak yang salah, Landak akan dihukum mati, daging Landak bisa dimakan. Aku memperoleh hasil. Kalau Beruk yang disalahkan, aku tidak memperoleh hasil."

Walaupun sebenarnya Beruklah yang salah dan Landaklah yang benar, oleh raja Landak dianggap salah sebab raja kepingin daging Landak itu. Akhirnya, Landak dihukum pancung. Daging Landak diambil raja.

1). RATNAWATI, Latifah. Struktur Sastra Lisan Aji .-Jakarta: Pusat Bahasa, 2002. Hal. 52 – 54
2). Wawancara dengan Nurfaizah (38). Kp. Serdang pada tanggal 12/01/2019

By. Nur Ikhsan D.C, S.Hum


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deskripsi Puyang di Sumatera Selatan

Cerita Rakyat Sumsel : Putri Berambut Putih

Cerita Rakyat Sumsel : Bujang Remalun