Sastra Lisan Suku Semende : Asal Mule Bedirinye Semende
Base asal-usul berdirinye tanah Semende ni, ade puyang ughang
nam, berasal dari Pagaruyung, Padang. Name jeme ughang nam ini, ye pertame Tuan
Raje, kedue Alim Raje, ketige Legan Bumi, keempat Raje Ngekup, kelime Nakan
Adin, keenam Same Wali. Di jalanan sampai di daerah Besemah Libagh betemu sughang,
nyelah Guru Sakti Secare Prabu Sahmat. Kate Tuan Guru Sakti tu, "Ke mane
kamu ghang nam ni?" "Kami ughang nam ini kah ncakaghkah tebambangan
anaq cucung kele, kah ncakagh tanah ye subur." "Oi, kalu maq
itu," kate Tuan Guru Sakti Secare Prabu Sahmat ni, "Aku naq
milu." "Nah, payulah ughang nam njadi ughang tujuh."
Bejalanlah jeme ughang tujuh ini. Dipindqkah cerite, sampai ke
daerah Prapau. Kate Tuan Raje, "Kamu ughang nam lajulah, aku kah tinggal
di sinilah. Dami kah baliq kele singgahi aku! "Ah, payu," kate jeme
ughang nam tadi. Njadi die langsung nyelusuri ayiq demi ayiq.
Sampailah ke Ayiq Beringin.
"Nah," kate jeme ughang nam itu, "kalu ayiq ini mudah-mudahan anaq
cucung kite kele maqmur, kerne di sini pacaq dijadikah sawah." "Nah,
kalu maq itu di sinilah kite besusuk."
Gisuqnye die nyelusuri Ayiq Suban. "Tambah di Ayiq Suban
ni," katenye, "tambah pacaq njadi ataran libagh. Nah, di ataran Ayiq
Suban ngah Beringin inilah kite besusuk." Kalu diperkirekah maqiniaghi,
badahnye besusuk tu nyelah di ulu dusun Tanjung Raye inilah.
Lah semalam, lah due malam tekinaq ngah asap api di ulu
Remantai. "Oi," kate Legam Bumi, "kite ni lah keduluan."
Kate Tuan Guru Sakti, "Diqde tau keduluan," katenye, "pagi kite
anduni, ngape jeme lah ndului kite di tanah ini." Njadi, mupakat jeme
ghang nam ini kah nganduni ke dusun Bughuq, namenye di ulu Remantai. Anye
sebelum berangkat, Tuan Guru ni lah netaq tungkat buluh tige ghuas. Seghuas
diisinye tanah, seghuas diisinye ayiq. Langsung berangkat ke dusun bughuq.
Sampai di situ, rupenye jeme lah ade
nian. Lah merupekah taruqlah kerajaan keciq. Ntaq ketebat keratun agi lah ade.
Name pemimpin jeme di dusun bughuq ini Cemeti Api. Datang jeme ghang nam ni
langsung dipanggilnye, "Sape pemimpin kamu datanglah ke sini? Ngape kamu
lah nyusuk tanah kami?" Datang Cemeti Api, "Kami," katenye,
"lum bedie bekas-bekas manusie, kami datang ke sini." "Nah, oi
diqde tau," katenye, 'ini tanah kami nian." "Njadi, kalu kamu
bekeras, pilih satu antare tige. Satu, kamu di tanah ini turut agame Islam.
Satu, kamu berangkatlah ndi sini tinggalkalab tanab kami nil Kalu dindaq
berangkat, dindaq masuq agame Islam, kite perang tanding ."
Oi, lah Cemeti Api dikinaqinye secare pirasat, diqde kah telawan
jeme ughang nam ni. Mane ulubalang, mane sakti. "Ude," kate Cemeti
Api, "kalu ndiq kamu nian tanah ini, beghani kamu bersumpah?"
"Oi, baghani gati bulaq kalu buhung, benagh-benagh tanah ini ndekuq,"
kate Tuan Guru Sakti. Die nyumpahkah tanah ngah ayiq dalam tungkat, bukannye
nyumpahkah tanah bumi. "Udim," kate Cemeti Api," kalu ndiq kamu
nian, mbag itu nian kamu lah beghani sumpah, kami kah berangkat."
Nah, rupenye die ni berangkat ke
Rejang Lebung. Akhimye, die ni nebas. Ude nebas dikit, betanam ala kadamye. Die
ngulang lagi ke Pagaruyung Padang. Langsung nyinggahi Tuan Raje di Prapau.
Entah beghape taun, ngulang ngelipat lagi. Dikinaqinye tebasan lah ngulang
seghut.
Ngulang mbali pule. Ude tu, ngelipat lagi ke Pagaruyung, Padang.
Kalu dalam cerite kurang lebih keenam kalinye barnu dimban lih raqyat banyaq
dan mbawe keluarge.
Baru tulah die besusuk. Namun, Tuan Raje tetap tinggal di
Prapau. Mangke bedirilah ye pertama Tanjung Raye. Mangke dalam sejarah Semende
tulah Prapau nyelah Tanjung Raye kerne salah sughang ditinggalkah di Prapau.
Kalu sebenarnye seghempaq die tu. Same tue. Njadi, nurut sejarah tuelah Prapau
ndi Tanjung Raye. Ngguguq mbaq ini nyelah anaq cucung ughang tujuh jelah di
Semende.
Terjemahan
Asal-usul berdirinya Semende ini dari enam orang Puyang yang berasal
dari Pagaruyung, Padang. Nama mereka adalah yang-pertama Tuan Raja, yang kedua Alim Raja, ketiga Legam Bumi, keempat.-Raja Ngekop, kelima Nakan Adin, dan keenam Sama Wali. Mereka
berjalan sampai ke daerah Besemah Lebar.,dan-berjumpa dengan seorang guru sakti bemama Prabu Sahmat.
"Hendak
ke mana kalian berenam?" tanya Tuan Guru Sakti itu.
"Kami
berenam ini akan mencari.tanah untukanak-cucu kami, yaitu
tanah
yang subur," kata mereka berenam.
"Ah, kalau begitu, saya juga.mau ikut," kata Tuan
Guru Sakti Setera Prabu Sahmat.
"Baiklah,
kalau begitu, daripada berenam lebih baik bertujuh," kata
mereka
berenam. Mereka bertujuh pergi hingga sampailah di· daerah Prapau.
"Kalian berenam silakan,meneruskan perjalanan, aku.biarlah tinggal di sini.
Kalau
kalian pulang singgahlah
ke rumahku, kata Tuan Raje.
"Baiklah", kata mereka berenam. Mereka pun meneruskan
perjalanan menyusuri sungai demi sungai, akhimya mereka tiba di Sungai
Beringin.
"Wah, di tanah ini mudah-mudaban anak cucu kita kelak dapat
hidup makmur sebab tanah ini baik sekali dijadikan sawab", kata mereka berenam.
"Kalau begitu, di sini saja kita bertempat tinggal",
kata mereka pula.
Keesokan harinya mereka berjalan menyelusuri Sungai Suban. "Dengan
ditemukannya Sungai Suban ini, berarti tanab kita bertambah luas," kata
mereka. "Jadi, di atas Sungai Suban dan Sungai Beringin inilah kita
berdiam." Kalau diperkirakan sekarang tempat mereka berdiam itu kira-kira
di sebelab ulu dusun Tanjung Raya.
Setelah
dua malam berada di tempat itu, keenam orang melihat asap
mengepul
di dekat Desa Aremantai. "Wah, kita ini sudah didahului orang," kata
Legam Bumi. "Belum tahu apakah kita keduluan. Besok kita datangi mereka
dan kita tanyakan mengapa mereka mendahului kita.
"Mereka berenam sepakat akan datang ke dusun Lama, dekat
Aremantai.
Sebelum
berangkat, Tuan Guru Sakti memotong tiga ruas bambu. Seruas diisinya tanah,
seruas diisinya air, lalu berangkatlab mereka ke dusun Lama.
Ketika mereka sampai, rupanya memang sudah ada orang.
Diperkirakan penduduknya sudah membentuk kerajaan kecil bahkan penduduknya
sudah membuat tebat, bahkan keraton.
Pimpinan desa ini adalah Cemeti Api. Keenam orang ini datang langsung
berseru, "Siapa pemimpin kalian? Datanglab ke sini! Mengapa kamu sudah
membuka lahan kami?"
Cemeti Api menghampiri dan berkata, "Ketika kami ke sini,
belum ada bekas-bekas manusia. Nah, kami tidak tahu, yang jelas ini benar benar
tanah kami," kata salah seorang berenam ini. "Kalau kamu berkeras
juga, pilih salah satu antara tiga ini. Satu, bila kamu tetap tinggal di sini,
kamu harus memeluk agama kami, yaitu agama Islam. Kedua, kamu berangkat dari
sini, tinggalkanlab tempat ini. Kalau tidak mau pergi dan tidak mau masuk agama Islam, kita berperang
tanding, kata mereka pula.
Cemeti Api berfirasat bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan
keenam orang ini. Ada yang sakti dan ada yang hulubalang. Ya, sudah, kata
Cemeti Api. jika tanah ini betul-betul tanah kamu, beranikah kamu bersumpah?
Berani, kami berganti bulu kalau bohong. Tanah ini benar-benar
milik kami, kata Guru Sakti. Tuan Guru Sakti bersumpah atas tanah dan air dalam
tongkat bambu, bukan bersumpah atas tanah di bumi. Ya, sudah, kata Cemeti Api,
Kalau tanah ini memang benar milik kamu dan kamu telah bersumpah, kami akan
berangkat.
Rupanya Cemeti Api dan anak buahnya menuju Rejang Lebong.
Akhimya, mereka kembali membuka lahan. Sesudah membuka lahan ala kadamya, ia
pulang ke Pagaruyung dan menyinggahi Tuan Raja di Prapau. Beberapa tahun
kemudian baru pulang lagi. Ketika itu dilihatnya tebasannya telah ditumbuhi
rerumputan.
Mereka kembali lagi ke Pagaruyung, Padang. Begitulah seterusnya
hal ini dilakukannya berulang ulang. Setelah datang yang keenam kalinya,
barulah ia membawa keluarga.
Sejak itulah ia menetap di tempat itu, tetapi Tuan Raja tetap
tinggal di Prapau. Sejak itu berdirilah Tanjung Raya. Dalam sejarah Semende,
Prapau lebih tua, baru Tanjung Raya karena salah seorang mereka tinggal di
Prapau. Sebenamya kedua desa itu sama tuanya. Sampai sekarang penduduk Semende
ini adalah keturunan orang enam itu.
Penutur Cerite : Abdul Muis
Umur : 80 tahun
Asal
: Desa Tanjung Raya,
Semende Darat
Pekerjaan : Tani
Alamat :
Desa Tanjung Raya, Semende Darat
Sumber : Struktur Sastra Lisan Semende
. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2000.; Hlm. 59-63
Follow FB : Nur Ikhsan D.C

Komentar