Legenda Gunung Seminung
Pada zaman dahulu kala,
antara suku dan bangsa di satu pulau dengan pulau lain di dunia ini, terjalin
hubungan karena perdagangan. Demikianlah suku Batak yang bermukim di tepi Danau
Toba dan sekitar Sumatera, sudah berhubungan baik dengan suku Tagalog di kepulauan
Mindanao, Filipina. Lalu lintas dilakukan dengan menggunakan perahu layar
mengarungi Lautan Hindia. Rombongan yang berlayar biasanya disertai pasukan
bersenjata untuk menghadapi serangan lanau atau bajak laut.
Sekali
waktu, rombongan pedagang suku Batak dari pemukiman sekitar Danau Toba dipimpin
oleh seorang pemuda remaja bernama Patua Poso, keponakan dari seorang raja di
suatu daerah yang bergelar Amang Padoha. Enam perahu layar lengkap dengan
pasukan pengawal menuju Mindanao di Filipina.
Seperti
biasanya, dalam melakukan perdagangan tukar menukar, rombongan itu beberapa
lama di Mindanao. Patua Poso berkenalan dengan seorang gadis remaja cantik
bernama sondang. Putri dari pedagang karya raya yang juga kepala suatu suku
puak Tagalog, bernama Tuan Mauru Sada. Kedua remaja itu saling jatuh cinta.
Beberapa bulan kemudian, Patua Poso pulang ke Sumatera. Pamanya Amang Padoha
setuju untuk melamar gadis Sondang.
Kemudian,
berangkatlah rombongan Patua Poso dan Amang Padoha sebanyak enam perahu layar
yang besar-besar mengarungi Lautan Hindia. Tiba di Mindanao dilakukanlah
lamaran yang di lanjutkan dengan perkawinan. Perayaannya dengan pesta tiga hari
tiga malam. Beberapa hari setelah pesta, sesuai dengan adat, keluarga besar
Tuan Mauru Sada turut mengantarkan rombongan pengantin baru untuk pulang ke
negerinya di Batak Danau Toba.
Tiba
di Lautan Hindia mendekati pantai selatan Sumatera, rombongan itu dikejar oleh
segerombolan bajak laut yang terdiri dari lima perahu layar. Bajak laut yang
kejam berhasil mendekat. Rombongan pengantin Patua Poso mengadakan perlawanan.
Lalu, terjadilah pertempuran yang sengit dan saling menabrakkan perahu.
Akhirnya, rombogan pengantin itu banyak yang tewas dan beberapa perahu mereka
dikuasai bajak laut. Perahu layar yang membawa Tuan Mauru Sada dan juga yang
membawa keluarga Amang Pedoba dapat bajak laut. Perahu layar yang membawa Tuan
Mauru Sada dan juga membawa keluarga Amang Padoha dapat dikuasai perompak.
Penumpangnya dibunuh dan perahunya mereka bakar. Tiga perahu lainnya mereka
tawan. Tinggallah lima perahu. Satu di antaranya yang membawa pengantin baru
bersama barang-barang berharga mereka, yang terdiri dari perhiasan emas.
Kelima
perahu rombongan pengantin itu berhasil menjauhkan diri mendekati pantai.
Sementara para bajak laut mendekati, mereka bergegas turun ke darat. Mengangkut
barang, bahan pangan, dan harta milik kedua pengantin. Berlari masuk rimba
menuju kaki Bukit Barisan.
Para
bajak laut membakar perahu rombongan itu, kemudian mengejar mereka ke hutan
belantara. Dua hari sudah bajak laut memburu, namun tidak berhasil menangkap
yang dikejarnya.
Sementara itu, jauh di daerah
pegunungan di balik Bukit Barisan, bagian selatan Pulau Sumatera, tempat berada
Gunung Seminung yang tingginya 1.900 meter dari permukaan laut, hidup
sekelompok masyarakat suku Komering. Negeri kecil itu dipimpin oleh seorang
wanita setengah baya, bergelar Puyang Seminung Namora, tempat tinggalnya di
puncak Gunung Seminung. Beliau memiliki seekor burung garuda. Di kaki Gunung
Seminung itu ada sebuah danau kecil yang dinamakan Ranau (Dalam bahasa Kawi
tua, ranau artinya tempat indah dan nyaman). Selain manusia, para dewi rimba
juga sering mandi-mandi di danau kecil itu.
Penduduk
negeri kecil itu hidup aman dan makmur, tanah di situ sangat subur, hasil
pertanian berlimpah. Tanaman lain seperti kopi, cengkeh, kayu manis, lada dan
tembakau juga subur berlimpah.
Suatu
hari, Puyang Seminung Namora yang memiliki kesaktian merasa ada suatu isyarat
yang menggugah batinnya. Diambilnya sebuah cawan kecil berisi air untuk melihat
apa gerangan isyarat itu. Dalam air yang dilihatnya ada sekelompok manusia
dalam keadaan kesukaran di hutan rimba raya di balik Bukit Barisan. Dia tahu
siapa mereka. Dan dilihatnya pula segerombolan orang yang mengejar di hutan belantara
itu. Kemudian dia ke halamn rumahnya dan memanggil burung garuda peliharaannya.
Beberapa orang tua itu dipanggilnya pula. Burung garuda bertanya: “ Ada apa
gerangan maka aku puyang panggil? “
Berkata Puyang Seminung Namora: ”Aku melihat ada dua kelompok
manusia saling mengejar di rimba raya balik Bukit Barisan sana. Tidak kurang
dari empat puluh orang yang dikejar itu, terdiri dari pria dan wanita. Kulit
dan wajah serta peranakan mereka menunjukkan bahwa mereka pastilah suku yang
hidup di pulau kita ini. Mereka bangsa kita, mereka dalam kesukaran. Kelompok
yang lain mengejar mereka. Tubuh yang mengejar mereka itu tinggi-tinggi. Kulit
mereka kuning. Mereka bersenjata pedang dan juga bedil. Pastilah mereka bajak
laut. Perahu mereka ada di tepi pantai. Kita harus menolong bangsa kita yang
kesukaran itu.”
Dikepak-kepakkan kedua sayapnya yang lebar. Air laut
bergelombang besar karenanya. Kelima perahu perompak itu rusak dan tenggelam.
Para perompak yang di hutan kembali ke pantai. Akhirnya, mereka kelaparan dan
di mangsa binatang buas.
Pengantin baru dan
rombongannya sangat gembira ditolong Puyang Seminung. Semua sadar bahwa keadaan
tubub mereka serupa dengan suku Komering. Setelah mendengar penjelasan suku
Batak dan Mindanao itu, Puyang Seminung
sangat terharu dan berkata “Kamu semua kami terima. Kusambut sebagai
keluarga kita.” Puyang mengarah perkataaanya kepada khalayak yang ramai
menyambut: “Menurut adat kita, pengantin laksana raja sehari. Pengantin ini
bermaksud merayakannya di negeri mereka di tanah Batak. Mereka sudah mengatakan
menjadi keluarga kita di sini. Aku ingin merayakan perkawinan mereka. Mendoakan
keselamatan pengantin baru. Kebetulan kita baru selesai panen padi. Kita
rayakan pengantin, kita rayakan karena hasil panen baik, sekaligus kita
merayakan menyambut tamu-tamu kita dari Batak dan Mindanao sebagai keluarga.”
Seseorang bertanya: “Dimana kita merayakannya wahai Puyang
?”
Jawab Puyang Seminung: “Besok malam bulan purnama. Kita
adakan perayaan seluruh negeri di Ranau. Tempatnya akan kusiapkan.”
Malam itu Puyang Seminung Mora menggunakan kesaktiannya.
Ranau yang tadinya danau kecil bagaikan kolam dijadikannya danau yang indah
sampai puluhan kilometer persegi luasnya. Semua penduduk kagum dan senang.
Siangnya mereka membuat berpuluh-puluh rakit dan perahu. Malamnya mereka
mengadakan pesta raya. Makan dan minum di atas rakit dan perahu di tengah Danau
Ranau. Para dewi juga turun menyebarkan wewangian sepanjang malam. Sementara
burung garuda terbang di udara menjaga.
Petua Poso dengan rombongannya juga yang dari Mindanao jadi
penduduk lembah Gunung Seminung. Mereka senang karena tanahnya sangat subur.
Terjadilah perkawinan dengan kalangan penduduk asli suku Komering. Setelah
Sondang mengandung, dia mengidam ingin melahirkan bayinya di tanah Batak.
Kemudian, burung garuda mengantarkannya bersama suami ke tanah Batak,
meninggalkan tanah Komering.
KESIMPULAN
Cerita ini merupakan legenda. Orang tak percaya pernah terjadi. Namun, sampai sekarang kita
bisa melihat Gunung Seminung dan Danau Ranau serta tanah yang sangat subur.
Dalam cerita rakyat yang hidup sekarang dikatakan, diatas
Danau Ranau hingga kini tetap ada burung garuda yang tak tampak dengan mata.
Menjaga Danau Ranau, agar manusia yang bertamasya di situ tidak melakukan
perbuatan yang dilarang adat dan agama. Jika ada yang melakukannya akan
mendapat ganjaran dari garuda.
Sampai sekarang aksara suku Komering sama dengan aksara
suku Batak. Banyak kata-kata dalam bahasa Komering yang sama dengan bahasa
Batak dan juga bahasa suku Tagalog di Mindanao, Filipina.
Sumber : B.Yass. 2003. Cerita Rakyat Dari
Sumatera Selatan 2. Grasindo : Jakarta
Follow Fb : Nur Ikhsan D.C
Follow Fb : Nur Ikhsan D.C

Komentar