Cerita Rakyat Ranau : Hutan Larangan



Kampung Sukau mendadak mencekam. Sore ini seorang pencari kayu melaporkan kepada kepala kampung bahwa temannya hilang di hutan. Ini bukan pertama kalinya warga hilang di hutan. Beberapa bulan yang lalu seorang lelaki setengah baya yang tinggal di perbatasan kampung juga tidak pulang-pulang ke rumahnya. Lelaki paruh baya yang hidup sebatang kara itu, menurut laporan tetangga, tak pernah lagi terlihat sejak beberapa waktu yang lalu. Beberapa tetangga terdekat sudah mencari ke beberapa tempat, tetapi hasilnya nihil. Beberapa warga kampung yang sempat berpapasan menyampaikan bahwa lelaki paruh baya itu terakhir terlihat menuju hutan. Sejak saat itu, lelaki paruh baya itu tak pernah lagi terlihat di sekitar kampung.
Masyarakat menyebut hutan itu Hutan Seminung karena terletak di kaki Gunung Seminung. Dari kejauhan hutan itu terlihat teduh dan rindang. Pohon-pohon besar yang kokoh sudah tampak berderet-deret di sisi hutan. Pucuk-pucuk daun dari pohon yang besar seperti berlomba-lomba mencapai langit. Sudah dapat dibayangkan, pasti di dalam hutan tersedia banyak sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Kayu bakar, buah-buahan hasil hutan, bahkan hewan-hewan buruan mudah didapat di hutan itu. Hutan yang rindang itu seperti magnet tersendiri bagi masyarakat untuk memasukinya. Pencari kayu bercerita bahwa tiga hari yang lalu dia dan seorang temannya berniat mencari kayu bakar di hutan bagian selatan. Tiba-tiba di persimpangan jalan secara tidak sengaja mereka berpisah. Setelah mencari ke segala arah, dia tak kunjung menemukan temannya tersebut. Si pencari kayu itu kemudian memutuskan untuk segera pulang dan melaporkan kejadian itu kepada kepala kampung.
Alangkah terkejutnya kepala kampung mendengar laporan warganya. Pasalnya, sejak hilangnya lelaki paruh baya beberapa bulan yang lalu, kepala kampong sudah beberapa kali mendapat laporan bahwa warganya juga kehilangan beberapa hewan ternak yang mereka gembalakan di sekitar Hutan Seminung. Kepala kampung segera menyusun rencana untuk menemukan warganya yang hilang sekaligus menemukan hewan-hewan ternak penduduk yang juga hilang. Keamanan di kampung ditingkatkan. Penduduk desa bergiliran berjaga-jaga di sekitar hutan dengan membawa peralatan keamanan lengkap. Tak hanya itu, kepala kampung juga membentuk sebuah tim yang terdiri dari pemuda-pemuda perkasa untuk mencari penduduk yang hilang. Anggota tim berjumlah delapan orang. Dua orang menuju ke timur, dua orang ke barat, dua orang ke utara, dan dua orang ke selatan. Pagi hari setelah ayam jantan berkokok, tim yang dibentuk pun dilepas oleh kepala kampung menuju hutan. Di persimpangan mereka berpisah, masing- masing menuju ke arah yang sudah disepakati.
 Dua pemuda yang ditugasi ke arah utara menyampaikan bahwa mereka tidak menemukan apa pun sepanjang perjalanan. Pada hari ketiga mereka sampai di sebuah perkampungan yang cukup ramai penduduknya. Di perkampungan tersebut kedua pemuda itu sempat singgah sebentar dan menanyakan kepada kepala kampung perihal hilangnya warga Kampung Sukau. Mereka berharap masyarakat di kampung yang terletak di sisi utara hutan itu melihat warga Kampung Sukau yang hilang. Akan tetapi, berita baik itu tak didapatinya. Kedua pemuda itu memutuskan untuk kembali ke Kampung Sukau dengan tangan hampa dan baru sampai lagi di Kampung Sukau pada malam hari keenam. Dua pemuda yang ditugasi ke arah timur pun pulang dengan tangan hampa. Mereka hanya bercerita bahwa di ujung pencariannya mereka hanya menemukan padang rumput yang luas di sisi timur hutan.
Setelah menemukan padang rumput itu, mereka memutuskan untuk kembali ke Kampung Sukau karena mereka yakin  masyarakat Kampung Sukau yang mereka cari tak mungkin hilang di padang rumput itu. Dua pemuda yang ditugasi ke arah barat juga membawa berita yang hampir sama. Mereka tak menemukan apa yang mereka cari. Di sisi barat Hutan Seminung hanya ada sebuah kampung kecil yang dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Kampung ini terlihat tenang. Kedua pemuda juga sempat menanyakan kepada penduduk setempat apakah mereka pernah melihat orang asing melintasi kampung tersebut. Jawabannya pun sama. Tak pernah ada orang asing yang pernah singgah di kampung itu, kecuali dua pemuda tersebut.
Pada akhirnya tersisalah dua pemuda yang diberi tugas untuk mencari ke arah selatan. Dua pemuda itu adalah Bilu dan Mopang. Pada hari ketujuh pencarian mereka lari tergopoh-gopoh menuju balai desa yang saat itu ramai. Wajah mereka pucat pasi. Dengan terbata-bata mereka menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami di hutan.
”Datuk, kami tak sanggup lagi melanjutkan pencarian,” ujar Bilu kepada kepala kampung yang mereka sapa dengan sebutan ”Datuk”. ”Iya, Datuk. Kami baru saja lepas dari incaran maut gara-gara tugas yang kami emban ini,” lanjut Mopang.
”Baiklah, kalian tenang dulu. Ceritakanlah kepada kami peristiwa yang sudah kalian alami hingga wajah kalian pucat pasi begini!” ujar kepala kampung.
Bilu dan Mopang pun sesaat menarik nafas dalam, lalu meminum teh hangat yang sudah disediakan oleh istri kepala kampung.
Bilu mulai bercerita, ”Datuk, kami baru saja melihat sebuah pohon besar yang sangat tinggi. Pohon tersebut memiliki batang yang sangat kokoh dan daun yang sangat rindang. Cabang-cabang pohon itu menjulur hingga kami tak dapat melihat ujungnya. Begitu besarnya pohon itu, satu cabangnya saja dapat menampung balai desa ini dan seisinya.”
Warga yang hadir dan mendengar cerita Bilu berdecak kagum. Mereka membayangkan di dalam pikiran mereka masing-masing betapa kokoh dan besarnya pohon yang dilihat oleh Bilu dan Mopang. Setelah menarik nafas sesaat, Bilu melanjutkan ceritanya, ”Dari kejauhan kami melihat pohon itu indah sekali. Pohon itu seolah mengeluarkan aroma yang tajam sehingga menarik siapa pun yang lewat untuk mendekatinya, termasuk kami. Semakin kami melihat pohon itu, kami semakin penasaran untuk mendekatinya.
Perasaan kami yang teraduk-aduk, aroma yang keluar dari pohon, keindahan pohon, dan bisikan-bisikan yang menggiring kami untuk mendekati pohon itu menimbulkan suasan mencekam. Hati kami menolak untuk mendekati pohon itu. Akan tetapi, langkah kaki memaksa kami mendekati pohon itu.” Bilu diam sesaat. Tatapan matanya mengarah ke ketinggian Hutan Seminung yang terlihat indah walaupun dari kejauhan. Warga yang hadir tak sabar mendengar kelanjutan cerita Bilu. Namun, mereka tahu Bilu dan Mopang baru saja mengalami peristiwa dahsyat yang mengganggu emosi dan perasaan mereka. Mereka hanya menunggu kalimat demi kalimat keluar dari mulut Bilu dan Mopang.
Sambil menunduk, Bilu melanjutkan ceritanya, ”Hati kami seperti teriris dan sedih tatkala kami semakin dekat ke pohon itu. Seolah-olah kami mendapat bisikan dan dituntun untuk terus mendekati pohon. Saya dan Mopang terus berjalan hingga kami sampai di rumpun pohon besar itu. Suara bisikan semakin kuat menuntun kami memanjat pohon itu. Kalau membayangkannya sekarang, rasanya mustahil bagi siapa pun untuk dapat naik ke pohon itu tanpa bantuan alat untuk memanjat pohon. Akan tetapi, kami dengan mudah dapat berjalan menaiki pohon itu.”
Bilu sesaat berhenti bercerita dan kembali menarik nafas dalam. Setelah meneguk teh hangat yang disediakan, Bilu melanjutkan ceritanya.
”Untungnya, kami tiba-tiba seperti terbangun dari tidur saat mendengar suara petir yang keras. Langkah kaki kami tiba-tiba terhenti dan kami jatuh dari pohon yang sudah kami naiki hampir setinggi tiga meter. Kami berusaha menjauh dari pohon besar itu.
Sekonyong-konyong kami tak bisa bergerak. Kaki kami seperti terpaku ke bumi. Kami berteriak sekuat tenaga dan mengerahkan segenap sisa tenaga yang kami miliki. Akan tetapi, tubuh kami terasa kaku. Semakin kami berteriak dan berusaha lari, kaki kami semakin terasa kaku. Kami pun hampir kehabisan tenaga dan mulai pasrah dengan segala kemungkinan yang akan menimpa. Perlahan Mopang berbisik kepada saya bahwa ayahnya pernah berpesan untuk tidak melawan kekuatan dengan kekuatan. Kami memasrahkan diri kepada Yang Mahakuasa. Akhirnya, perlahan kami bisa melepaskan diri. Kami berusaha lari sekuat tenaga..
Dari kejauhan kami mendengar suara menderu yang berusaha mengejar kami. Syukur kami bisa memasuki kampung dengan selamat. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi kalau saja suara petir yang menggelegar tidak menyadarkan kami.” Sampai di situ Bilu menghentikan ceritanya. Keletihan dan ketakutan masih terlihat di wajahnya.
Mopang yang saat itu duduk di sebelah Bilu melanjutkan cerita Bilu. “Datuk, kami benar-benar takut, Datuk, saat tersadar, ternyata pohon besar yang awalnya terlihat indah itu sangat menyeramkan. Tidak hanya sobekan kain, kami juga melihat ribuan ular bergelantungan di sela-sela daun dan ranting pohon. Aroma tak sedap menyeruak dari sela-sela pohon. Kulit-kulit kayu seolah menjelma menyerupai mata pedang yang sangat tajam. Sungguh pohon besar dan sekitarnya adalah tempat paling menyeramkan yang pernah kami lihat.” Kepala kampung terpana mendengar cerita Bilu dan Mopang. Sejenak pikirannya melayang membayangkan nasib tiga warganya dan hewan ternak yang hilang di hutan.
”Jangan-jangan mereka terjebak di dalam pohon besar penuh ular itu,” pikir kepala kampung. Saat itu juga kepala kampung mengingatkan seluruh warganya agar tidak memasuki kawasan hutan.


Sumber :

            Naga Emas Danau Ranau Cerita Rakyat dari Lampung
Penulis : Yulfi Zawarnis
Penyunting : Sulastri
Ilustrator : Pandu Dharma
Penata Letak : MaliQ
Diterbitkan pada tahun 2016 oleh
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur


Follow FB : Nur Ikhsan D.C

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deskripsi Puyang di Sumatera Selatan

Cerita Rakyat Sumsel : Putri Berambut Putih

Cerita Rakyat Sumsel : Bujang Remalun