PERJUANGAN RAKYAT PALEMBANG MENGHADAPI BELANDA
A. Perang
Palembang
Ketika pertama kali dilantik pada
1803, Sultan Muhammad Badarudin II mengeluarkan kebijakan untuk terus
memperkuat pertahanan Kesultanan Palembang Darussalam dengan cara mendirikan benteng-benteng
pertahanan. Mula-mula benteng yang dibangun berada di hulu sungai Musi yaitu di
daerah Banyu Langu yang dipergunakan untuk menghadapi serangan pasukan musuh.
Selain sebagai pertahanan, benteng juga digunakan untuk mengawasi aliran
perdagangan dari daerah sampai ke pusat, sebagai tempat mendirikan
gudang-gudang perbekalan, serta sebagai tempat mengatur siasat menghimpun
kekuatan massa.
Perlawanan oleh Sultan Muhammad
Badarudin II terhadap Belanda lahir dari kesadaran bahwa untuk menjadi suatu
kesultanan yang besar, maka Palembang harus mampu menjaga kedaulatannya dari
intervensi-intervensi bangsa asing. Dalam hal ini Sultan Muhammad Badarudin II
berusaha untuk mencegah Belanda mencampuri persoalan yang terjadi di dalam
lingkungan kraton. Selain itu, Sultan Muhammad Badarudin II menghapuskan
kebijakan pendahulunya yaitu Sultan Komaruddin Wikramo (memerintah pada 1722)
yang memberikan hak kepada VOC untuk membeli dan memonopoli perdagangan timah.
Melihat hal tersebut Inggris
mempunyai motivasi untuk menguasai Pulau Bangka dan Belitung karena adanya
timah yang merupakan
salah satu komoditi paling diminati di Eropa. Selain itu, jika Inggris berhasil
menguasai pulau Bangka dan Belitung, maka gerak pasukan Belanda dari Batavia
yang akan menguasai Palembang kembali dapat diamati. Karena kondisi politik di
Eropa, dimana Kerajaan Belanda dikuasai oleh Napoleon dari Prancis, maka secara
otomatis Hindia Belanda juga menjadi milik Prancis. Untuk menyelamatkan daerah
jajahannya di seberang lautan, Pangeran Belanda meminta bantuan kepada Inggris
untuk menjaga daerah jajahannya selama kerajaan Belanda dikuasai Napoleon. Atas
dasar ini lah, Raffles mendapatkan perintah dari Lord Minto seorang Gubernur
Jendral Inggris yang berkedudukan di India untuk mengambil alih daerah jajahan
Belanda di Nusantara.
Salah satu usaha Raffles dalam
mengambil alih daerah jajahan Belanda di Nusantara adalah dengan berusaha
menguasai Kesultanan Palembang Darussalam, terutama Pulau Bangka dan Pulau
Belitung. Berbagai cara telah Raffles lakukan untuk merayu agar Sultan Muhammad
Badarudin II menyerahkan kedua pulau tersebut kepada Inggris. Hingga akhirnya
pada 20 Maret 1812, Raffles memerintahkan sebuah ekspedisi di bawah pimpinan
Robert R.Gillespie untuk menyerang Kesultanan Palembang Darussalam karena tidak
mematuhi perjanjian Tuntang.
Ekspedisi ini tiba di muara
sungai Musi pada 15 April 1812. Untuk mengantisipasi serangan Inggris, Sultan
Muhammad Badarudin II mempercayakan keamanan ibukota Palembang kepada adiknya,
Ahmad Najamuddin yang berjaga di Benteng Pulau Borang. Benteng ini merupakan
benteng pertama yang dijumpai jika ada kapal yang akan menuju ibukota
Palembang. Namun, Raffles telah mengirim surat perjanjian kepada Ahmad
Najamuddin jika pasukan Inggris berhasil menggulingkan Sultan Muhammad
Badarudin II, maka Ahmad Najamuddin akan menjadi sultan dan timbal balik kepada
Inggris berupa penyerahan Pulau Bangka dan Pulau Belitung menjadi milik
Inggris.
Tanpa mengalami banyak rintangan,
pasukan Gillespie berhasil menaklukan Benteng Pulau Borang pada 24 April 1812.
Dengan jatuhnya benteng Pulau Borang ke tangan Inggris, Sultan Muhammad
Badarudin II beserta pasukan dan pengikutnya segera hijrah ke pedalaman Musi
Rawas. Kabar jatuhnya benteng Pulau Borang ke tangan Inggris tanpa adanya perlawanan
dari Ahmad Najamuddin membuat Sultan Muhammad Badarudin II berinisiatif membawa
semua atribut dan lambang-lambang kerajaan ke pedalaman. Sultan Muhammad
Badarudin II juga membawa harta kerajaan sebanyak 97 peti yang diisi dengan 100
uang Spanyol tiap petinya yang diangkut dengan lima buah perahu.
Mundurnya Sultan Muhammad
Badarudin II dari kraton Kesultanan Palembang Darussalam ke pedalaman tanpa
berhadapan langsung dengan pasukan Inggris merupakan suatu strategi dari Sultan
Muhammad Badarudin II untuk menyiapkan serangan balik. Sultan Muhammad
Badarudin II menyadari bahwa jatuhnya Benteng Pulau Borang dengan mudah kepada
pihak Inggris merupakan pertanda ada sesuatu yang dilakukan oleh adiknya, Ahmad
Najamuddin. Sultan Muhammad Badarudin II juga menghindari terjadinya
pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Inggris dan pasukan kraton.
Ketika mendengar kabar bahwa Inggris akan menyerang Kesultanan Palembang
Darussalam, Sultan Muhammad Badarudin II memerintahkan sebagian besar
pasukannya untuk berjaga di Benteng Pulau Borang dengan dikomando oleh adiknya
sendiri, Ahmad Najamudin. Harapannya, pasukan Inggris tidak sanggup menembus
Benteng Pulau Borang karena pasukannya sudah bersiap di sana. Namun, Benteng
Pulau Borang dapat ditembus dengan mudah. Karena jumlah pasukan yang berada di
kraton sedikit, maka Sultan Muhammad Badarudin II berinisiatif segera
memerintahkan untuk mundur ke daerah pedalaman sambil menyiapkan strategi.
Mundurnya Sultan Muhammad Badarudin II dan pasukannya ke daerah pedalaman juga
menghindari kekalahan Sultan Muhammad Badarudin II dari pasukan Inggris. Secara
hukum adat yang berlaku di kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Muhammad
Badarudin II masih merupakan sultan yang sah di Kesultanan Palembang
Darussalam. Karena Sultan Muhammad Badarudin II masih memiliki lambang dan
atribut kebesaran kerajaan, meskipun Sultan Muhammad Badarudin II tidak berada
di kratonnya, serta tidak mengalami kekalahan yang mengakibatkan dirinya
menyerah kepada pihak musuh.
Dugaan Sultan Muhammad Badarudin
II terhadap adiknya yang bekerja sama dengan pihak Inggris ternyata memang
benar. Pada 14 Mei 1812, Ahmad Najamuddin diangkat oleh Inggris menjadi Sultan
yang baru di Kesultanan Palembang Darussalam dengan bergelar Sultan Najamuddin
II. Dilantiknya Ahmad Najamuddin menjadi seorang sultan, mengharuskan ia
menyerahkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung ke pihak Inggris. Setelah
mendapatkan kedua pulau tersebut, Raffles memerintahkan Kapten Mears menjadi
residen di Bangka untuk memantapkan pengaruh kekuasaan Inggris di pulau
penghasil timah tersebut.
Konvensi London tanggal 14
Agustus 1814 menetapkan bahwa Inggris menyerahkan kembali kepada Belanda semua
koloninya di seberang
laut, yang dikuasai Inggris sejak 1811. Thomas Stamford Raffles sebagai seorang
Gubernur Jenderal Inggris yang menguasai daerah-daerah di Nusantara, tidak
setuju dengan kebijakan yang disepakati di London ini. Daerah-daerah di
Nusantara baru diserahkan kembali kepada Belanda setelah Raffles digantikan
oleh John Fendal tepatnya melalui sebuah peristiwa resmi pada tanggal 19
Agustus 1816 kepada Commisaren Generaal Belanda.Kemudian Commisaren Generaal
mengangkat Klass Hejnis atau K. Heynes sebagai residen untuk Palembang dan
Bangka.
Sesampainya di Palembang, Heynis
sebagai residen baru merasa keadaan Palembang sangat jauh dari kata aman.
Banyak kekerasan dan perampokan terjadi di wilayah yang baru ia kenal. Oleh
karena itu, Heynis menetapkan daerah Muntok, Bangka sebagai pusat pemerintahan
sementara. Pemerintah Kolonial Belanda juga tidak tinggal diam terhadap laporan
Residen Heynis mengenai situasi di Palembang, sehingga pada tanggal 27 Okober
1817 diangkatlah Mr. Herman Warner Muntinghe sebagai Komisaris Pemerintahan
Belanda. Dengan hal ini, Muntinghe mencoba mempersatukan dua Sultan di Kesultanan
Palembang Darussalam. Usaha Muntinghe dalam mempersatukan dua sultan dengan
cara menurunkan sultan Najamuddin dan mengembalikan tahta kepada Sultan
Muhammad Badarudin II.
Usaha Muntinghe dengan kedua
saudara itu berhasil, kekuasaan sultan dikembalikan kepada sultan Mahmud
Badaruddin II. Sultan Muhammad Badarudin II mendapat kembali gelar dan
kekuasaan sebagai sultan setelah ia membayar sejumlah uang kepada adiknya
sebagai kompensasi. Ia menempati kraton besar dengan simbol status sebagai
seorang sultan, sementara adiknya kembali ke kraton tua.
Kembalinya Sultan Muhammad
Badarudin II menjadi sultan Palembang lagi, membuat berang Raffles yang kembali
dari cutinya ke Bengkulu pada 22 Maret 1818. Raffles berpendapat bahwa
perjanjiannya dengan sultan Najamuddin II masih berlaku dan juga mengajukan
protes resmi ke Commisaren Generaal Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia.
Raffles juga menganggap Benteng Malborough di Bengkulu merupakan pertahanan
terakhirnya, sehingga dia mengadakan intrik-intrik kepada raja-raja di Sumatra
untuk melawan Belanda.
Sementara itu, Sultan Najamuddin
II yang mengetahui kedudu-kannya bakal terancam oleh pasukan Belanda, meminta
pertolongan kepada Inggris. Hal ini disambut baik oleh Raffles sebagai salah
satu usahanya untuk berkuasa kembali di Palembang. Raffles menjawabnya dengan
mengirimkan pasukan Sepoy. Pasukan yang dipimpin oleh kapten Francis Salmond
ini berangkat melalui daratan. Mereka tiba di Palembang 4 Juli 1818 dan membuat
perjanjian dengan Najamuddin II. Peristiwa ini membuat marah Muntinghe, namun
karena ia sedang dalam perjalanan ke Batavia, ia memerintahkan pasukannya yang
ada di Palembang untuk menahan Najamuddin II di kratonnya serta menghabisi
pasukan Inggris yang berada di lingkungan kraton tua. Raffles yang mengetahui
berita ini segera mengirimkan pasukan baru di bawah pimpinan Residen Heynes
untuk menancapkan bendera Inggris di daerah Muara Beliti.
Muntinghe yang telah kembali ke
Palembang dari Batavia segera bertindak. Hal pertama yang dilakukannya adalah
meminta pertanggungjawaban Najamuddin II atas kehadiran pasukan Inggris di
kraton tua dan mengasingkannya beserta keluarganya ke Cianjur pada 30 Oktober
1818. Kedua menyiapkan pasukan dengan jumlah yang besar untuk
menghadapi pasukan Inggris di Muara Beliti. Pasukan Inggris ternyata tidak ke
Muara Beliti terlebih dahulu, namun ke kota Palembang terlebih dahulu untuk
mengamankan Najamuddin II. Mengetahui bahwa Najamuddin II tidak ada di kraton
tua, pasukan Inggris yang dalam keadaan lapar segera melanjutkan perjalanan di
Muara Beliti. Sesampainya di Muara Beliti, Muntinghe telah menunggu pasukan
Inggris dan telah menyiapkan persenjataan. Namun karena telah didera kelelahan
dan kelaparan, pasukan Inggris membuat kesepakatan dengan Muntinghe dan tidak
akan menyerang wilyah Kesultanan Palembang Darussalam. Bahkan Muntinghe sendiri
yang mengantarkan pasukan Inggris ke perbatasan Bengkulu.
Pengusiran Najamuddin II oleh
Muntinghe membuat Sultan Muhammad Badarudin II merasa sakit hati. Oleh sebab
itu, Sultan Muhammad Badarudin II memerintahkan rakyat untuk menyerang pasukan
Muntinghe yang akan kembali ke Palembang. Perlawanan rakyat cukup membuat
pasukan Muntinghe mengalami kehancuran. Sesampainya di Palembang, Muntinghe
menuntut Sultan Muhammad Badarudin II untuk menyerahkan putra mahkota kepadanya
sebagai ganti rugi atas serangan rakyat yang menimpa dirinya, dan membuang
putra mahkota ke tanah Jawa agar lebih mudah diawasi oleh pemerintah Kolonial.
Sementara dari Batavia datang lagi dua ratus prajurit Belanda dan Muntinghe
menempatkan mereka di sisi kraton, padahal benteng Belanda sendiri sebenarnya
berada di luar kraton. Muntinghe melakukan teror psikologis terhadap sultan
sehingga mau tidak mau memberikan jawaban atas permintaan Muntinghe.
Sultan Muhammad Badarudin II menanggapi
permintaan Muntinghe dengan menolak mengabulkan tuntutan tersebut. Terhadap
jawaban sultan tersebut, Muntinghe memberikan batas waktu dan ultimatum bahwa
jikalau sultan menolak bahwa itu berarti perang dengan
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Sultan Muhammad Badarudin II tetap
bersikeras untuk menolak menyerahkan putra mahkotanya namun bersedia
mengasingkan orang-orangnya ke tanah Jawa. Kesultanan Palembang Darussalam
menyiapkan diri dengan memobilisasi persenjataan dan pasukan. Sebanyak 242 pucuk
artileri yang terdiri dari 105 pucuk meriam dan 139 pucuk meriam kecil yang
siap dibidikkan.
B. Peranan
Sultan Mahmud Badaruddin II
Selaku sultan dari sebuah
kesultanan, sudah selayaknya Sultan Muhammad Badarudin II memiliki pengetahuan
dan wawasan ilmu pengetahuan yang luas. Dalam perjalanan sebuah kesultanan
tidak terlepas adanya konflik, baik dengan sebuah kelompok, kerajaan maupun
dengan pemerintah kolonial Belanda. Demikian juga halnya selama menjadi
pemimpin dari Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Muhammad Badarudin II
juga tidak terlepas dari berbagai macam konflik atau peperangan. Baik itu
konflik internal kesultanan maupun konflik dengan pemerintahan asing. Salah
satu konflik yang cukup besar dalam masa pemerintahan Sultan Muhammad Badarudin
II adalah konflik dengan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1819. Dimana
konflik ini dikenal dengan perang Palembang, yang merupakan perang terbesar di
lautan pada akhir abad ke 19. Peperangan ini merupakan peperangan terbesar
karena memakan banyak korban baik dari segi jumlah pasukan, senjata, alat
perang dan keuangan.
Dalam menghadapi sebuah
pemerintah asing yang memiliki alat perang yang jauh lebih unggul, Sultan
Muhammad Badarudin II memiliki banyak strategi yang jitu. Berdasarkan
pengalaman para sultan-sultan terdahulu di Kesultanan Palembang Darussalam
serta ajaran
dari kakek dan ayahnya, Sultan Muhammad Badarudin II ketika selesai dinobatkan
menjadi seorang sultan, mengambil langkah untuk membangun banyak benteng
sebagai bentuk pertahanan keamanan penduduknya serta sebagai tempat mengontrol
perdagangan di wilayah kesultanannya.
Dalam pembangunan benteng ini,
Sultan Muhammad Badarudin II tidak serta merta memaksa rakyatnya untuk ikut
serta menjalankan programnya. Namun, ia hanya mempekerjakan rakyatnya yang tidak
memiliki lahan pertanian. Dalam pembangunan ini, Sultan Muhammad Badarudin II
tetap memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dengan cara memberikan imbalan
seperti pakaian dan makanan selama proses pembangunan benteng. Sementara para
pejabat istana yang memiliki dusun diwajibkan untuk membantu programnya dengan
cara memberikan sebagian hasil panen dari dusun yang dimiliki oleh
pejabat-pejabat istana. Kesultanan yang memiliki kekayaan yang berlimpah,
Sultan Muhammad Badarudin II selaku sultan tidak segan-segan mengeluarkan
sebagian besar uangnya untuk kemakmuran dan keamanan penduduknya. Hal ini bisa
diketahui dari banyaknya benteng yang dibangun di masa pemerintahannya,
terutama di wilayah ibukota kerajaan. Dalam menjaga benteng, pasukan kesultanan
dibekali dengan senjata-senjata yang cukup modern seperti meriam dan senapan.
Senjata-senjata ini diperoleh Sultan Muhammad Badarudin II dari perdagangan
dengan pihak Inggris dan Belanda.
Selain itu, Sultan Muhammad
Badarudin II juga dikenal sebagai seorang sultan yang bisa membangkitkan
semangat pasukannya di medan perang. Melalui keterampilannya di bidang sastra,
Sultan Muhammad Badarudin II membuat sebuah syair yang bernama Syair Perang Menteng.
Syair ini oleh Sultan Muhammad Badarudin II digunakan untuk menyemangati
pasukannya dalam pertempuran melawan Belanda di tahun 1819. Dengan adanya
sebuah penyemangat dan perjuangan dikala berperang, membuat pasukan Sultan
Muhammad Badarudin II meraih kemenangan di perang itu.
Sumber:
- Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru:
1500-1900 dari Imporium sampai Imperium, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999,
hlm 273. 9 Mary F. Somers, Timah Bangka & Lada Mentok: Peran masyarakat
Tionghoa dalam pembangunan Bangka abad 18 s/d 19, Jakarta: Yayasan Nabil, 2008,
hlm 7.
- ANRI, Arsip Bundel Palembang No. 66.7, Minuut van
vitgande brieven van de H.W. Muntinghe, aan de Baron van der Capellen,
secretarie van Staat Gouverneur Generaal Ned. Indie 1819-1820.
- Suyono, Peperangan Kerajaan di Nusantara: Penelusuran
Kepustakaan Sejarah, Jakarta: Grasindo, 2004, hlm. 145. 16 Ibid, hlm. 146.
- Suyono, Op.cit, hlm. 148. 20 H.A. Dahlan, dkk. Risalah
Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang: TP, 1981, hlm. 26.
- Djohan Hanafiah, Perang Palembang 1819-1821: Perang Laut
Terbesar di Nusantara, Palembang: Pariwisata Jasa Utama, 1986, hal. 45.
- Kiagus Imran Mahmud, Sejarah Palembang. Palembang:
Anggrek, 2008, hal. 55.
(diakses dari sudrajat@uny.ac.id)
Facebook: Nur
Ikhsan D.C

Komentar