Cerita Sastra Musi : Gadis Cantik di Kebun Bunga
Gadis cantik tinggal bersama ibunya. Ketika suatu hari ibunya
memungut cendawan, ibunya menyuruh Gadis Cantik memasak cendawan itu. Setelah
cendawan itu- masak, Gadis Cantik itu meletakkannya di atas punggung kura-kura
sehingga cendawan itu dibawa kura-kura sampai masuk ke empang gergasi. Gadis
Cantik mengikutinya juga. Ketika Gergasi melihat empangnya telah berisi,
dibawanyalah isi empang itu. Setibanya di rumah, Gergasi itu menanyakan berapa
besar hati Gadis. Si Gadis menjawab bahwa hatinya baru sebesar kuku.
Dua hari berikut pertanyaan itu
diulanginya lagi dan dijawab oleh si gadis bahwa hatinya masih sebesar tinju.
Beberapa hari berikutnya Gergasi bertanya lagi dan dijawab oleh si Gadis bahwa
hatinya sudah sebesar piring. Mendengar itu. Gergasi menyuruh si Gadis menumbuk
bumbu untuk menggulainya. Pada waktu itu ada seekor elang. Si Gadis bernyanyi,
"Elang sekap elang si gunggung. bawa saya ke kebun bunga, diupah ayam sekandang."
Ketika Gergasi menanyakan apa yang dikatakan si Gadis, ia menjawab bahwa
tangannya gatal dan kata si nenek, itu tandanya bahwa la akan bergelang.
Diulangnya lagi nyanyian itu dan ketika Gergasi bertanya dijawabnya bahwa telinganya
gatal. Gergasi menyatakan bahwa si Gadis akan bersubang. Diulanginya Iagi
nyanyian itu. Ketika Gergasi bertanya dijawabnya bahwa lehernya gatal dan
Gergasi menyatakan bahwa si Gadis akan berkalung. Diulanginya lagi nyanyian itu
. Ketika Gergasi bertanya dikatakannya bahwa kepalanya gatal. Itu tandanya
bahwa si Gadis akan memakai pakaian pengantin kata Gergasi. Pada saat itu alu
yang dipegang oleh si Gadis terjatuh dan dilihatnya Gadis Cantik telah dibawa
Elang dan diletakannya di kebun bunga.
Pada saat itu seekor Ayam
menyampaikan berita itu kepada ibu si Gadis tetapi ibu itu tidak percaya.
Setelah diulangi oleh si Ayam. barulah ibu beranjak ke kebun bunga lalu Gadis
Cantik itu dibawanya pulang dan diletakannya di atas loteng dengan ditutupi
keranjang. Tidak beberapa lama, Gergasi datang dan bertanya kepada si Gadis. Ibu
si Gadis mengatakan bahwa si Gadis sudah lewat dan menyeberang lautan. Gergasi
dapat menyusul Gadis itu dengan mengikat badannya pada sebuah gentong yang
mulutnya ditutup dengan gabus. Sesampai di tengah lautan, tutup gentong itu
harus dibuka agar cepat sampai. Pesan itu betul-betul dilakukan oleh Gergasi
sehingga tenggelamlah ia di tengah laut itu.
Nilai Budaya dalam Cerita
Peristiwa yang diungkapkan dalam
cerita "Gadis Cantik di Kebun Bunga" ini adalah usaha yang dilakukan
oleh Gadis Cantik dalam upayanya membebaskan diri dari kekejaman Gergasi.
Dengan pertolongan seekor Elang dan Ayam, Gadis Cantik dan ibunya dapat
memusnahkan Gergasi. Semua itu dilakukan dengan kecerdikan dan tolong menolong.
Tema cerita adalah kekuatan yang besar dan kekejaman itu dapat dihancurkan
dengan kecerdikan. Amanat cerita ini adalah Janganlah kekejaman atau kekuatan
yang besar dihadapi dengan kekejaman pula melainkan hendaklah dihadapi dengan
akal yang cerdik.
Tema dan amanat itu tersirat pula dalam kutipan
berikut.
Tiba di rumah ditanya oleh Gergasi itu Katanya, "Besar
belum hatimu, cucu?" "Belum, Nek. Baru sebesar kuku. "Dua hari
sesudah itu, ditanyanya lagi "Besar belum hatimu, cucu?" "Besar
sedikit,Nek. Seperti tinju."
Beberapa hari sesudah itu ditanyainya
lagi. Kata Gadis itu, "Sudah besar seperti piring kecil." Lalu Gadis
itu disurulmya menumbuk bumbu gulai untuk menggulai Gadis itu sendiri. Sedang
Gadis itu menumbuk ada Elang. Gadis itu berkala. "Elang sekap elang si
gunggung, bawa saya ke kebun bunga. Diupah ayam sekandang." Gergasi
bertanya, "Mengapa kau, cucu?" "Tidak.Nek. Tanganku gatal."
Sesudah itu Gadis itu berteriak lagi
kepada Elang. Gergasi bertanya lagi, dijawab Gadis itu, "Tidak,Nek.
Telingaku gatal." "Ah, cucu. Mau bersubang, kau itu." Kemudian
Gadis itu berkala lagi. Gergasi itu bertanya lagi. Dijawab oleh si Gadis itu,
"Tidak,Nek. Leherku gatal." "Ah, kau ingin berkalung,
cucuku." Sesudah itu Gadis itu berkata lagi. Gergasi bertanya lagi. Gadis
itu menjawab, "Tidak,Nek. Gatal kepalaku." "Ah, cucu. Kau itu
akan memakai pakaian mempelai." Kemudian alunya jatuh, Gergasi melihat
Gadis itu sudah dibawa Elang (SBM, 1988:211)
Kutipan berikut pun memperlihatkan tema dan amanat
dimaksud.
Tiba di rumah ditutupnya dengan
keranjang di atas loteng. Tidak lama sesudah itu, datang Gergasi. Gergasi
bertanya kepada ibu Gadis Cantik tadi itu. Katanya, "Adakah Gadis Cantik lewat
dari sini?" Kata ibu Gadis tadi, "Sudah lewat menyeberang laut."
Gergasi itu bertanya kembali kepada ibu Gadis tersebut, "Bagaimana caranya
akan menyusulnya ke seberang?" Kata ibu Gadis itu, "Bawa gentong ini
saja. Muara gentong itu disumbat dengan gabus. Nah, badanmu itu diikatkan
dengan gentong ini supaya jangan jatuh. Kalau sudah ditengah laut, agar cepat
sampai, sumbat ini dibuka." Gergasi tadi terus menyeberang. Sudah di
tengah laut, Gergasi ingat pesan ibu Gadis tadi. Dicabutnya sumbat gentong itu.
Akhirnya tenggelamlah Gergasi itu. (SBM, 1988:213)
Di samping amanat utama di atas,
masih ada nilai budaya yang tersirat di dalam cerita "Gadis Cantik di
Kebun Bunga" ini. Nilai-nilai budaya itu adalah sebagai berikut.
(1) Suka menolong
Suka menoiong merupakan prilaku yang
sangal terpuji. Orang yang memiliki sifat ini suka menolong siapa saja yang
membuluhkan pertolongannya. Dalam cerita ini, sifat suka menolong dimiliki oleh
Ayam dan Elang. Karena pertolongan yang diberikan oleh kedua makhluk ini,
terhindarlah Gadis Cantik dari kekejaman Gergasi.
Hal ini dapat diketahui pada kutipan
berikut.
Kemudian alunya jatuh. Gergasi
melihat Gadis itu sudah dibawa Elang. Gadis itu diletakan Elang di kebun bunga.
Ada ayam berkotek, "Ada Gadis Cantik di kebun bunga." Dijawab oleh
ibu Gadis itu. "Hai, Ayam kurang ajar. Dari mana Gadis Cantik. Gadis
Cantik sudah hilang." Ayam tadi berkotek lagi, "Gadis Cantik di kebun
bunga." Ibu Gadis turun dari rumahnya pergi ke kebun bunga. Ketika
dilihatnya Gadis Cantik tersebut ada di kebun bunga dibawanya pulang ke rumah.
(SBM, 1988:212)
(2) Kejujuran (Tidak Suka Bohong) dan
Kecerdikan
Sifat pembohong memang merupakan
sifat terceia dalam keadaan tertentu sifat pembohong ini boleh dilakukan.
Misalnya, ketika akan melindungi orang yang tidak bersalah yang terancam
bahaya. Sifat pembohong boleh dilakukan. Kebohongan seperti ini, dalam cerita
ini. dilakukan oleh Gadis Cantik dalam upayanya membebaskan diri dari kekejaman
Gergasi. Ibu Gadis Cantik pun melakukan kebohongan yang sama, yaitu ketika ia
berusaha melindungi anaknya dari kejaran Gergasi. Bahkan, dengan kebohongan
itu, ia juga berhasil menghukum Gergasi sehingga ia tenggelam di tengah laut.
Hal ini menyiratkan nilai yang kedua, yaitu kecerdikan.
Demikianlah nilai-nilai budaya yang terdapat
dalam cerita "Gadis Cantik di Kebun Bunga"ini. Nilai-nilai luhur
inilah yang akan disampaikan oleh pengarang kepada masyarakat penikmat
karyanya.
Sumber
: Analisis Tema, Amanat, dan Nilai Budaya Sastra Nusantara di Sumatra Selatan,
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan,Jakarta. 1994. hlm. 69-72.
Follow
FB : Nur Ikhsan D.C

Komentar