Sejarah Tanaman Kopi Dari Ulu Musi Hingga Ranau (Onderafdeeling Muaradua)


(Koffiefabriek en drooghuizen op de onderneming Kaba Wetan op Zuid Sumatra 1928 : Gambar Pabrik kopi dan rumah pengeringan di Kaba Wetan di Sumatera Selatan Tahun 1928)



Zuid Sumatra, Online

Jenis tanaman kopi pertama yang dikenalkan di daerah Uluan Palembang adalah kopi Arabica. Kopi ini ditanam di daerah Uluan Palembang sebelah utara yang lebih banyak berbentuk pegunungan, yang tidak cocok ditanam kapas ulu. Penanaman kopi Arabica ini, sudah ada sejak masa Kesultanan Palembang, terutama di daerah Ulu Musi dan Ampat Lawang di Onderafdeeling Lematang Hulu Lahat dan Onderafdeeling Pagaralam.

Namun, produksinya hanya terbatas pada pasar intern, karena kesulitan transportasi di daerah ini untuk dibawah keluar. Pada awalnya, komoditas kopi Arabica ini lebih dulu dikenal lewat pasar Padang yang dibawah dari Pelabuhan Bengkulu, karena perhubungan terbuka waktu itu lebih mudah lewat dataran tinggi yang menurun ke Keresidenan Bengkulu. Baru setelah jalur Bukit Barisan menuju ke Keresidenan Palembang lewat Hulu Musi terbuka, kopi Arabica mulai mendapat tempatnya karena meningkatnya persaingan.

Menariknya, harga kopi ini, kemudian memicu penanaman kopi Arabica di dataran tinggi Bukit Barisan, daerah Uluan Palembang lain yakni Basemah Lebar di Onderafdeeling Lematang Hulu Lahat dan di Semendo pada Onderafdeeling Lematang Hilir Muara Enim. Akibatnya, Lahat dan Muara Enim muncul sebagai pusat perdagangan kopi di uluan. Namun, kopi Arabica ini memiliki kendala yang sangat sulit untuk diatasi, karena rentannya jenis kopi ini terhadap penyakit tumbuhan.

Oleh karena itu, pada awal tahun abad ke-20, produksi kopi Arabica ini mengalami penurunan drastis. Perlahan namun pasti, kemudian jenis kopi ini diganti oleh kopi jenis Robusta  yang juga dapat ditanam di daerah dataran tinggi di bawah ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. Pada awalnya kopi Robusta mencoba menggantikan posisi kopi jenis Arabica dan ditanam di daerah Basemah di Onderafdeeling Pagaralam, Semendo di Onderafdeeling Lematang Hilir Muara Enim, dan Ampat Lawang di Onderafdeeling Lematang Hulu Lahat. Kesuksesan penanaman kopi di Uluan Palembang, ternyata banyak menarik minat para enterpreneur, pengusaha Barat, yang pada akhir abad ke-19 datang sendiri ke daerah pegunungan dan membuka kebun kopi sendiri, terutama di tanah “tidak bertuan”, daerah Dempo dan Lembah Sindang.

 Pengusaha Barat ini kemudian memproduksi kopi Robusta secara besar-besaran, dan menggeser kopi rakyat yang banyak hanya menanam kopi Arabica. Pengusaha Belanda ini, tidak saja membuka kopi di Dataran Tinggi Bukit Barisan, namun juga melebarkan sayapnya sampai ke kaki Gunung Seminung di lembah Danau Ranau di Onderafdeeling Muara Dua. Di selah-selah himpitan perkebunan besar kopi Robusta milik pengusaha Barat ini, para petani local banyak juga yang mengusahakan perkebunan kecil kopi Robusta, mulai dari daerah Bukit Barisan sampai ke Gunung Seminung, di Onderafdeeling Muara Dua.

Pada dasawarsa pertama abad ke-20, produksi kopi arabica dan tembakau  yang telah dimulai pada paro kedua abad ke-19, baru mencapai beberapa ratus pikul setahun. Namun kondisi ekonomi berubah, ketika keterasingan lembah gunung ditembus oleh pembukaan jalan baru yang menghubungkan Ranau dengan sistem pasar yang lebih luas. Perkembangan budidaya kopi yang cukup pesat di sekitar danau ranau telah menyebabkan pertumbuhan kelompok dagang yang amat berpengaruh di pasar wilayah tersebut. Perantara ini membeli kopi di Ranau, yang selanjutnya diangkut dengan truk ke pasar Muaradua.

            Pada tahun 1918, harga kopi masih rendah, namun sesudah kenaikan harga pertama pada tahun 1919 dan 1920, budidaya robusta  mengalami perluasan pertama yang besar di Ranau. Berbeda dengan Arabica, robusta mengalami tidak memerlukan tanah yang terletak tinggi, sehingga kebun pertama dapat dibangun di bagian utara marga Ranau yang terletak lebih rendah. Pada tahap pertama, jalur sebelah jalan masih kosong, namun pada pertengahan tahun 20-an derah sepanjang jalan di Simpang Sukarame ke Banding Agung ke arah danau telah penuh dengan kopi milik pendatang Ogan. Hasilnya, pada tahun 1927 di bagian utara marga Ranau, dengan jumlah penduduk 6.623 terdapat 2.018 petani asal Ogan yang memiliki lebih dari 100 bau (satuan ukuran luas tanah di jawa, kira-kra 71 are (7096 m) tanah. Kebun kopi ini biasanya diperoleh melalui persetujuan sewa bumi dan untuk mendapat kontrak yang berlaku selama lima tahun, petani Ogan bersedia membayar uang sewa bumi sampai Nlg (Netherland gulden) 250 per bau kepada kepala marga Ranau.

Kembali ke permasalahan, yang ingin dilihat dalam tulisan pada bagian ini adalah batasan geografis mengenai apa yang disebut dengan daerah Uluan Palembang. Dari segi geografis, maka daerah-daerah yang termasuk pada area Uluan Palembang ini, umumnya mencakup wilayah geografis dataran tinggi. Berdasar ulasan pada bagian ini Onderafdeeling Pagaralam, Onderafdeeling Lematang Ulu Lahat, Onderafdeeling Tebing Tinggi termasuk dalam wilayah Uluan Palembang sebelah utara. Sementara, Uluan Palembang sebelah selatan mencakup wilayah Onderafdeeling Lematang Hilir Muara Enim dan Onderafdeeling Muara Dua.

Sumber:
§  Peeters, Jeroen. 1997. Kaum Tuo-Kaum Mudo: Perubahan Religius di Palembang 1821—1942. Jakarta: INIS.
§  Dedi Irwanto M. Santun, Murni, Supriyanto. Iliran dan Uluan: Dinamika dan Dikotomi Sejarah Kultural Palembang., Yogyakarta. 2010.


Penulis: Nur Ikhsan D.C

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deskripsi Puyang di Sumatera Selatan

Cerita Rakyat Sumsel : Putri Berambut Putih

Cerita Rakyat Sumsel : Bujang Remalun